16 Juni 2010

Kalengan Cinta yang Bocor


Kalau Mbak atau Non atau Puan jadi ratu kecantikan, maka selama setahun bertengger di kursi jabatan tentulah dilarang kawin. Supaya safe hendaklah jangan pula pacaran, sebab pacaran itu selalu merongrong keperawanan, baik perawan kencur maupun perawan aspal hasil operasi pembaptis kemunafikan. Menjadi ratu kecantikan adalah puncak karier yang menggelikan hati, tetapi pokoknya soal cinta mesti dikalengkan dulu dan ditaruh di kulkas.

Seorang social worker wanita Filipina, dalam suatu workshop drama propaganda, gandrung pada seorang Arjuna Indonesia yang eksotik. Dan tatkala tali cinta telah memanjang dan membelit bagai Nogogini, tak bisa tidak menangislah Sembodro Tagalog itu; air mata dan kata-katanya tumpa, “I’m so confused… tak mungkin aku putuskan begitu saja apa yang telah tersambung erat, tetapi aku harus menghindarkan segala percintaan ini demi karierku…”
Ia adalah seorang aktivis perjuangan underground yang mengoposisi rezim Marcos. Untuk itu ia pantang dan dilarang kawin sebelum perjuangan mencapai hasil.
Di negeri kita banyak Kartini kontemporer menggalang karier di berbagai organisasi politik atau perusahaan-perusahaan yang membutuhkan konsentrasi, full disiplin, serta spesialisasi. Artinya bukan sang wanita sekedar menguasai suatu prof-skill spesialistis, melainkan bahwa ia mesti memasukkan dirinya bulat-bulat ke dalam sebuah karung spesial, paling tidak untuk waktu tertentu. Beberapa kabar burung mengemukakan bahwa ketika kemudian para wanita ini terlibat dengan Dewa Asmara maka terganggulah mekanisme usahanya. Terbengkalailah usahanya. Terbengkalailah karier dan perusahaannya.
Kenapakah mesti, setidaknya dari ketiga contoh di atas, terjadi korsleting antara cinta dan dan karier? Kenapa pula kabar-kabar mengangkat kasus itu hanya dari para wanita, dan tidak (setidakya kurang) dari para lelaki? Kenapa juga para sastrawan suka mendukung asumsi ni dengan cerpen-cerpen “di antara karier dan cinta”?
Kalau benar cinta itu subversif terhadap stabilitas karier, maka alangkah malang hidup. Padahal wanita Indonesia kini sedang sibuk memperjuangkan eksistensinya. Kami ini ada lho, sebagaimana lelaki ada. Kami bisa berbuat, sebagaimana lelaki berbuat. Orang-orang jangan hanya ngomong how big, how rich, how powerfull he is. Ganti 50% he itu dengan she. Jangan cuma he rule the universe, tapi juga she does. Lelaki jangan mentang-mentang. Lihat Indonesia punya menteri wanita. Baca koran dong tentang lurah dan camat wanita. Perempuan bukan sekedar penjaga tungku atau kanvas diam dungu yang pasif dilukis seenak udel oleh kaum lelaki. Ada beribu dokter wanita, insinyur, doktor, M.A., M.F.A atau judul-judul lain untuk kaum sekolahan. Sopir truk wanita? Ada. Pun pemain sepakbolayang bagaikan Carolina Rummenige, Maradoni, Pele (biar wanita tetep Pele juga namanya), ataukah Fauziah yang tak kalah melawan Fawzi. Berikan dunia ini kepada kaum wanita, mereka akan menawarkan kedamaian dan kebahagiaan seperti yang dikandung alam semesta. Wanita adalah duta-duta Tuhan, yang menyuapi mulutmu dengan cinta kasih dan keabadian.
Jadi kenapa gerangan, untuk hal-hal tertentu, kaum wanita ini menolak cinta. Adakah itu sekedar teknis pengorganisasian kerja hidup mereka, ataukah ada filsafat tertentu yang melatarinya. Dalam badan hidup ini, apa sesungguhnya yang disebut cinta?
Rumah-rumah tradisional di Jawa, misalnya, menggambarkan tatanan ruang kejiwaan di dalam diri masyarakatnya. Pendopo atau ruang depan yang lebih luas dari privat room mereka menunjukkan semacam penyediaan sikap social yang luas. Konsep privacy bahkan hamper tak ada karena ruang dalam rumah mereka pun begitu social. Di bagian manakah dari rumah itu yang menjadi symbol cinta?
Barangkali roh cinta itu tak tertubuhkan lewat sekat ruang. Atau mungkin nyawa cinta kasih itu justru terungkap pada keseluruhan bangunan rumah itu termasuk pendopo-sosial yang begitu luas. Apakah sesungguhnya sang cinta, yang suka menjadi penembak misterius jantung wanita?
Ketika seorang “wanita karier” menunda urusan cinta-mencinta, seolah-olah ia memiliki konsep bahwa cinta adalah sebuah bilik yang untuk sementara digembok saja dulu. Nanti kalau karier sudah mapan bisa dibuka kembali dan lelaki idaman hati silakan masuk.
Kata karier sebenarnya tumbuh dalam suatu sistem nilai budaya tertentu di mana etos individualisme sangat menjadi pokok soal. Dalam ungkapan kasar karier adalah perjuangan individual yang menyibak jalan lingkungan, artinya memakai atau mengeksploitasi apa saja di sekitarnya untuk kepentingan kariernya. Etos ini memberi resiko ketika seseorang berhadapan dengan kemungkinan bercinta. Roh cinta kasih yang semula bersifat sosial-universal-tungggal-dalam Tuhan, tersaring menjadi hasrat individual. Individualitas yang satu dengan Tuhan dan alam semesta, artinya dengan sekalian masyarakat makhluk, tereduksi menjadi cinta kasih sebuah ego. Kemudian berdasarkan suatu pemikiran pengorganisasian hidup yang rasional, analisa dilakukan, dan itu menghasilkan pengkotakan makna cinta. Yang disebut cinta hanyalah hasrat hati kepada lawan jenis. Dan jika itu diungkapkan, wujudnya ialah bahwa cinta merupakan salah sebuah kamar di dalam rumah. Kamar yang lain adalah studi, karier, ekonomi, atau kegiatan politik. Kamar satu dengan yang lainnya saling merasa asing. Risikonya ialah terjadinya jebakan-jebakan adab budaya komunitas manusia, sekaligus kebutuhan-kebutuhan psikologis di dalam individu per manusia.
Karena itu sukar menapasi kuku politik dengan udara cinta, mustahil membangun ekonomi dengan solidaritas kasih, atau sukar memasukkan kata cinta dalam konteks yang mendasar dalam paper atau skripsi di universitas. Cinta sungguh-sungguh menjadi urusan cengeng seseorang dalam bilik kostnya atau Plawangan Kaliurang atau Puncak, seperti sembahyang juga terbatas menjadi urusan geografi sebuah rumah ibadah.
Layak pulalah kalau seseorang yang menempuh karier harus menyisihkan urusan cinta jauh-jauh di dalam bilik hatiya. Sebab cinta yang dimaksud ialah cinta egonya belaka. Cinta sebuah ego memang sukar diorganisasikan untuk tidak korsleting dengan mekanisme sebuah perusahaan. Sistem nilai yang berlaku memang hamper tidak memberi peluang bagi makna cinta yang lain, yang lebih luas.
Padahal cinta itu tenaga, seperti juga nafsu. Keinginan seksual tidak harus 100% diwujudkan lewat persenggamaan. Cinta bisa member power bagi kegiatan apa saja, tergantung pengendaliannya dan kemampuan transformasinya.
Tenaga cinta tidak mutlak harus (hanya) terungkap lewat kosentrasi kepada lawan jenis, meskipun alternative itu memang amat menonjol. Seorang wanita yang mampu mengendalikan kejiwaannya dimana motor cinta bersemayam, tak perlu kelabakan ketika terjadi “benturan” antara kesuntukan karier dengan berseminya cinta kepada seorang Arjuna. Sumber kelabakan itu ialah jika ia mengakumulasi tenaga di sebuah kalengan atau kamar tertutup. Bisa meledak jika dirangsang oleh api, atau setidaknya menjadi bocor. Semua barang yang bocor memang nggak baik.
(Emha Ainun Nadjib – Menturo, Desember 1983)

2 comments:

lah, tak kira tulisanmu boy..
ternyata Emha lagi..he3
ayo mana tulisanmu lagi..

gak bisa nulis, & sya gak prnah punya tulisan..
hehe

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu di sini..

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More