Tampilkan postingan dengan label Asmara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asmara. Tampilkan semua postingan

09 Juni 2012

Ini Juga Kangen

Aku kangen. Bagaimana kok kangen ini tahu-tahu nongol? Nongol lagi, padahal sudah lama tidak. Kangen ini, perasaan yang sebenarnya tidak nyaman dan mengganggu stabilitas diri. Ingin kusingkirkan, ingin menghilangkannya. Kalau bisa selamanya. Tapi ya gitu, kadang-kadang masih saja datang, mungkin karena diam-diam bagian diriku yang lain suka meni’matinya.

Kangenku kali ini tertuju pada “siapa” atau “apa”, mulai tidak begitu jelas. “Siapa” yang kumaksudkan di situ adalah fisik, jasad, wujud daging seseorang. Sedangkan “apa” lebih luas, bisa bersifat fisik ataupun metafisik. Jadi, pada “siapa” bisa terdapat “apa”. Nah, “apa” yang kemungkinan aku kangenin adalah “apa” yang terdapat pada “siapa” itu, dan sifatnya metafisik. Nggak jelas ya?

Aku jelaskan, bahwa yang mulai tidak begitu jelas sekarang adalah bukan pada-siapa-aku-kangen. Bukan juga pada apa-yang-aku-kangenin. Yang aku tidak paham adalah dengan mudah aku bisa melihat, menemui, dan menyapa tapi aku tetap merasakan kangennya. Padahal katanya penyebab kangen adalah karena sudah biasa bareng, kemudian berpisah, hingga terlalu lama tidak bertemu dan berkomunikasi.

Alasan tersebut akan lebih tidak bisa dipahami jika dihadapkan pada kenyataan bahwa ada seseorang bisa kangen pada orang lain atau apapun yang belum pernah ia temui. Kangen pada Nabi Muhammad saw. misalnya. Ia hidup jauh dari masa kehidupan Rasul, tidak pernah melihat “siapa” Rasul. Ia hanya tahu “apa” yang ada pada Rasul.

Karena itulah aku mulai ragu. Jangan-jangan aku tidak lagi kangen pada “siapa”, melainkan pada “apa”-nya? Kalau sudah begitu, kan jadi masalah! Bagaimana aku bisa mengobati kangen ini?

Tapi ada kabar menyenangkan berdasarkan masalah tersebut, bahwa kangen yang hebat memang dicapai saat kita benar-benar tidak mampu lagi menemukan media untuk menuntaskannya. Tidak ada twitter untuk nge-mention, tidak tersedia facebook untuk nge-wall, apalagi skype untuk video calling. Pun layanan telepon, e-mail, chat, BBM, SMS atau lainnya, tidak ada yang bisa digunakan. Namun, dalam ketidak-berdayaan tersebut, mereka yang saling kangen diam-diam mendo’akan satu sama lain. Hingga secara otomatis terbentuk cinta segitiga antara mereka dan Tuhannya. Itulah titik puncak kangen.

Maka kemungkinan benarlah kata beberapa teman, penyebab kangen itu sebenarnya cuma satu: cinta/kasih sayang. Serta kataku, jarak yang memisahkan sepasang kekasih itu cuma pantas diisi oleh dua: kepercayaan dan kesetiaan. Aku tidak tahu dua kalimat terakhir ini nyambung atau nggak dengan paragraf di atasnya, cuma pengen nulis itu sebagai penutup aja.

Aduh! Nambah nggak jelas ya? Ya sudah, emang gitu. Sengaja.


Cirebon, 08 Juni 2012
NB: Eh, ada yang ketinggalan. Kok malah jadi bingung sendiri gini, ngomong-ngomong yang hidup itu “siapa” atau “apa” ya?

13 November 2011

Gawat! Tidak Mungkin Saya Bisa Pacaran

Awalnya kecewa saat tidak ada seorang pun teman yang sedang dalam status berpacaran memberi respon terhadap tulisan saya yang sebelumnya, KBBI Tak Mampu Memberi Tahuku Perihal Berpacaran. Ada beberapa yang memberi komentar, namun tidak pada pokok persoalan. Ada yang mengajukan pendapatnya mengenai pokok persoalan, tapi mereka bukan pelaku berpacaran, bahkan sepertinya tidak pernah berpacaran. Makanya saya kurang sedikit percaya. Yang saya butuhkan adalah argumen dari pelakunya langsung, agar informasi yang saya peroleh berimbang.

Satu-tiga hari saya menunggu mereka yang berstatus pacaran memberi tanggapan, tetap tidak ada. Akhirnya saya ambil kebijakan untuk memancing mereka, atau lebih tepatnya sedikit “memaksa”, untuk berbicara.

Berhasil! Satu orang terpancing. Tapi sayang, komentarnya masih kurang ngena. Satu orang lagi mengikuti, tanggapannya mulai nyentuh pokok persoalan.
Pasangan tak akan bertahan lama klo tak ada rasa persahabatan d dalamnya.
Persahabatan tdk bsa dsebut pacaran. Pacaran itu pasti persahabatan.

Tapi sekali lagi sangat disayangkan, tanggapannya belum cukup menjelaskan tentang pacaran secara total. Saat kuajukan pertanyaan lanjutan, “Jadi bedanya pacaran ma persahabatan apa? apa yang gak ditemuin di persahabatan tapi bisa ditemuin di pacaran? Ia tak menjawab. Setelah itu tidak ada lagi yang memberi tanggapan. Putus sudah harapan untuk menguak ketidak-pahaman saya terhadap masalah berpacaran ini.

Sekitar dua hari setelahnya, saat sudah tidak peduli lagi dengan masalah ini, saya berpapasan dengan seorang teman di kampus. Dia adalah salah satu pelaku berpacaran yang saya pancing untuk ngomong. Dia mencegatku, “Mad! Mmm.. Tentang pacaran itu...” Dia sedikit berpikir, seperti ada yang membuatnya ragu. “Oh iya, kenapa?” kutimpali dia, sambil diam-diam dalam hati nyimpen perasaan seneng, “Assik! Akhirnya ada yang mau ngomong juga! Dan kayaknya serius.”

“Mmm..” ia melanjutkan dengan masih ragu-ragu, “Entar aja deh! Saya komen langsung ke note kamu...” Sekali lagi saya dikecewakan. Tapi tidak apa-apa, karena tampak serius, saya yakin dia bakal ngasih komentar. “Oke, siap! Saya tunggu komentarnya.”

Malamnya saya buka facebook, tidak ada pemberi-tahuan mengenai komentar baru di note saya. Baru esok paginya ada pesan baru di inbox dengan subyek “Komen Note” atas nama teman yang kemarin mencegat saya. Saya buka pesannya, kira-kira isinya seperti ini:
Mad ini komen aq ttg note km,,
Mnurut aq, kondisi yg km ceritakan d note itu adlh slah stu kondisi yg trjadi dlm hbungan yg biasa dsbut "pacaran". Pacran ada yg trjadi dri niat si cowo ato si cwe utk memulai pdkt, ada jg yg trjadi krna stelah lama knal, nyaman kmudian jadian, ada jg yg cuma buat status, ada yg skedar pelarian,, ada yg berniat utk ke jenjang prnikahan dn msh bnyak lg kondisi yg sbnernya brmacam2 nmun bsa d sbut pcran,, trmasuk kondisi yg km critain, mgkin tdk pacran mnurut km. tp ada org lain yg serupa dgn km tdk ada pross pnembakan nmun kemudian mreka mrasa smkin dekat shingga wlopun tanpa proses "nembak" mrka sdh mrasa pcran, itu trgantung gmna kdua blah phak mgganggap hbungan yg mreka jalani. Nah, klo soal arti KBBI yg mnyebutkan arti pcran itu demikian, dn ada yg mnjalani pacaran dgn tanpa kasih sayang, itu brarti org trsbut hnya mgejar "status". Sdgkan kata pacar itu sndiri bsa diartikan dlm KBBI sprti itu krna porsi awalnya pacaran itu adlah hbungan yg d dsari atas kasih sayang,,Nah d stu km jg smpat bgung apakah rasa kagum dia sma dgn rsa kagum km, d situ lah knpa org memilih pacaran dg proses "nembak", utk tahu apkah mereka pnya prasaan yg sma, tp klo ttp ingin sprti itu ya gpp, setiap org pnya cra nya msing2 utk mnjaga kemistri,,
Di bawahnya tertera:
Komentar cwe yg pnya pacar, hahahahaha :p

Beneran serius euy! Cukup menarik, dia banyak ngasih tau latar belakang orang-orang berpacaran. Saya balas pesannya:
asseeeekk..~! klo kamu sndri trmsuk kndisi yg mana? ltar blakang pacarannya apa?

Setelah beberapa waktu, jawabannya muncul di hape saya:
Blsannya g lewat fb ya, fb aq g dilog-out d kompi dia hehe

Di luar cerita, saya gak paham dengan kalimat ini. Apa hubungannya fb dia yang gak di-logout di komputer pacarnya dengan balasan pesannya yang lewat SMS? :)
Klo alasan aq pcaran selama ini, krna pngen tau karakter org lbh dlem lg, dn yg psti krna nyaman,, Dan klo soal sayang itu, aq sndiri g bsa jelasin kya gmna, yg psti sih ada rsa peduli. pduli klo dia skit, pduli klo dia bt, pduli klo dia ada msalah dll lah,, Dan sbg cwe trkadang perhatian itu dprlukan, wlopun aq bsa g mkirin hal itu slma 2 thn lebih mlih single, *curhat* haha

Cuma ya intinya, bnyak sih yg bsa dilakuin, bsa tuker pikiran, kta pnya org yg bsa lebih kta prhatiin dn mmperhatikan kta, hehehehe
Tapi basic-nya krna nyaman dan peduli mad.

Assik sekali teman saya yang satu ini! Orangnya terbuka, makanya saya beranikan diri nanya kayak gini:
org pcarn g nemuin knyamanan d dlm klrga y? smpe msti nyari d luar.
jd, syang tu pduli? apa bda’y pduli org pcarn ma pdulinya tman biasa/kluarga?
brarti org pcarn tu org yg kurang dprhatiin lngkungannya y, baik klrga/tmn?
Sebenarnya saya sempet ragu mau nanya gitu, takut tersinggung atau gimana. SMS saya tak kunjung dibalas, dan saya pun ragu bakal dibalas. Celaka!

Benar saja, setelah sekian lama datang SMS balasan yang isinya bernada ketidak-nyamanan.
Persepsi kta beda mad,, :)
Aq tau apa yg km mksud, dn aq hargai persepsi km
Dan satu hal, kasih sayang dri kluarga aq g pernah sdikitpun trasa kurang. Alhamdulillah,, :)

Dengan perasaan bersalah saya bales:
owh,.oke sip! alhmdlillah,.syukurlah.. brarti dugaan sya slah.
kmbli k mslah awal, jd pcarn tu buat apa? klo trnyata smua yg km sbutin d sms sblumnya dah km dpet dr kluarga/tman?

Untuk kali ini pertanyaan saya benar-benar tidak dijawab. Pupus lagi harapan saya untuk memperoleh kejelasan mengenai pacaran. KBBI tak mampu memberinya, begitupun dia yang berpacaran. Lalu harus kemana saya mencari penjelasan tentang masalah pacaran ini? Bertanya pada rumput yang bergoyang? Atau coba bertanya pada langit tua? Ah, sepertinya mereka tidak peduli dengan masalah seremeh ini. Saya saja yang kurang kerjaan.

Sampai akhirnya dengan sangat terpaksa saya bikin hipotesis secara sepihak bahwa tujuan orang berpacaran adalah untuk mengetahui hubungan suami-istri sejak dini. Seperti pasangan siswa/i SMA berboncengan motor yang saya lihat kemarin. Sepertinya asik sekali, tangan si cewek melingkar memeluk pinggul cowok-nya dan dagunya diletakkan ke pundak si cowok. Mesranya aduhai! Ditambah rintik-rintik gerimis membuat suasana semakin romantis. Seolah-olah mereka bersekongkol dengan alam untuk mengejek saya yang tidak pernah merasakan sensasi suasana kayak gitu.

Dan kalau hipotesis saya benar, maka sudah tidak ada kemungkinan bagi saya untuk dapat berpacaran. Gawat! Ketidak-pahaman saya tentang masalah pacaran ini mungkin saja jangka panjangnya akan berakibat pada kebutaan pada masalah-masalah pernikahan dan konflik-konflik dalam rumah tangga. Saya tidak bermaksud ngomong kalo pacaran itu isinya melulu masalah dan konflik lho!

Tapi tidak apa-apa, saya pertaruhkan pernikahan saya dengan tidak berpacaran saat ini. Pacarannya sekalian dalam berumah-tangga aja, kayaknya lebih seru. Saya terlalu takut melakukan aktivitas macam itu sekarang. Disentuh cewek sedikit aja saya ngrasa nggak nyaman. Ada rasa-rasa makseeeerrr...~ gimanaaa gitu! Entah kenapa dan dari mana perasaan itu muncul. Mungkin gara-gara sejak kecil saya dididik dalam keluarga yang bener-bener memperhatikan dasar agama kali ya? Kata Nabi yang nyampein agama saya, lebih baik menggenggam bara api dari pada megang cewek yang bukan mahram.

Tapi setelah diingat-ingat, pasangan berboncengan motor yang kemarin ternyata seagama dengan saya, tampak dari tutup kepala yang si cewek kenakan. Saya yakin mereka juga tau kata-kata Nabi tersebut. Maka muncul pertanyaan, apa yang membuat saya merasa takut? Atau apa yang membuat mereka tidak merasa takut?

Masa bodo teuing lah! Rumput bergoyang ataupun langit tua saja tidak peduli. WaaLlahu’alam bish-shawab.


Bandung, 13 November 2011

20 Oktober 2011

KBBI Tak Mampu Memberi Tahuku Perihal Berpacaran

Semoga bisa menjadi bahan iseng-iseng berpikir di sela-sela waktu sibuk memikirkan tugas/ujian kuliah, atau menjadi bahan pertimbangan di tengah-tengah menghadapi peliknya masalah dengan pacar Anda... :) Selamat membaca!

Beberapa waktu lalu saya sering menerima curhatan beberapa –dua sampai empat–  teman tentang kisah asmaranya. Mengherankan, entah atas pertimbangan apa mereka memilih saya sebagai tempat mencurahkan isi hati. Sejujurnya saya kesulitan menghadapi curhatan mereka, atas dasar perasaan “tidak-enak-ke-temen” terpaksa saya ladeni. Makanya tidak ada satu pun dari mereka yang masalahnya terselesaikan. Saya justru menambah beban pikiran mereka dengan pemikiran-pemikiran absurd-ku tentang hubungan dua lawan jenis yang biasa mereka sebut pacaran itu. Terbukti sesaat setelah saya jawab curhatannya, mereka malah melemparkan kata-kata macam “Loh, kok gitu?” Kemudian saya jawab lagi, muncul “Maksudnya?” Sampai akhirnya kalau sudah kesal-kesal amat, seperti apa yang menimpa salah satu dari mereka, terlontar kalimat “Kamu aneh..”.

Tidak masalah bagi saya disebut aneh, karena menurut saya justru hubungan yang mereka sebut pacaran itu lah yang sebenarnya aneh. Sampai hari ini saya gak paham apa itu pacaran, bagaimana melakukannya, apa bedanya dengan berteman, serta siapa pula itu yang disebut pacar. Tapi jujur, ini bukan karena sok suci atas dasar agama saya menghindari pacaran. Saya hanya menemukan banyak keanehan dan sulit memahami masalah ini, sehingga saya belum bisa melakukannya. Mungkin benar apa yang dikatakan temanku bahwa selain golongan penikmat pacaran dan pembenci pacaran, ada golongan yang tidak bisa berpacaran. Nah, sepertinya saya termasuk golongan yang terakhir.

Tapi asal tahu saja, saya pernah dekat dengan seorang cewek. Atau mungkin tidak salah juga kalau saya mengklaim bahwa hubungan kami sudah sampai ke tahap sangat-dekat, karena hampir setiap hari kami berhubungan. Eits! Ati-ati. Bukan berhubungan macam “itu”. Komunikasi maksudnya, walaupun sekedar lewat layanan SMS. Tapi sekali lagi, sekedar mempertegas fakta bahwa saya normal, saya dan si cewek sudah sangat dekat. Mungkin yang gak normal adalah tentang bagaimana terciptanya kedekatan tersebut. Saya tidak pernah melewati apa yang disebut orang-orang sebagai tahap PDKT. Pun tidak pernah terlintas niat untuk mendekatinya. Kedekatan kami tercipta begitu saja secara alami, baru kemudian muncul perasaan aneh, yang kata orang-orang itu cinta.

Di luar cerita, karena pengalaman itulah saya gak percaya kalimat “cinta pada pandangan pertama”. Menurut saya, jatuh cinta gak cukup cuma karena pandangan doang.

Setelah denger-denger kata orang bahwa itu cinta tidak lantas membuat saya langsung ngungkapin ke dia kata-kata gombal macam “Aku cinta kamu, aku sayang kamu. Kamu mau jadi pacarku?” Saya cuma bisa ngomong kalo saya kagum padanya, itu pun setelah dipaksa oleh berbagai situasi. Gak disangka, ungkapan kekaguman saya tidak bertepuk sebelah tangan. Katanya dia juga kagum dengan saya. Walaupun sampai sekarang saya gak tau apakah kekagumannya itu berarti sama dengan perasaan aneh yang saya miliki (yang katanya cinta itu lho!), atau kata kagum yang bermakna sebenarnya, ya sekedar kagum. Sudah mengungkapkan perasaan satu sama lain, kedekatan kami pun semakin intens. Tapi gak pernah kami mendeklarasikan diri bahwa kami berpacaran. Hubungan kami tidak ada yang tahu. Apakah itu bisa disebut berpacaran?

Di lain waktu, melalui jejaring sosial facebook saya pernah mendeklarasikan diri berpacaran dengan seorang cewek, bukan cewek yang kuceritakan sebelumnya. Banyak reaksi yang diberikan teman-teman saat itu. Golongan pembenci pacaran memojokkanku, “Lagi apa-apaan kamu pacaran? Lupa akhirat ya?” Sedangkan golongan penikmat pacaran mendo’akan, “Selamat ya, semoga langgeng..” Tidak ada yang tahu bahwa saya sama sekali tidak pernah berhubungan dengan si cewek. Tidak ada yang tahu bahwa tidak ada sedikitpun perasaan spesial diantara kami. Karena sebenarnya cewek yang saya jadiin pacar di situ adalah hasil rekayasa, ia sekedar akun facebook yang kuciptakan sendiri. Apakah itu yang disebut berpacaran?

Karena penasaran, saya cari di KBBI, ketemu kata pacar. Katanya pacar itu teman dekat dari lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih, biasanya untuk menjadi tunangan dan calon istri/suami. Saya nyesel nemuin deskripsi ini, tambah bikin bingung. Yang muncul justru usul agar sebaiknya KBBI segera direvisi, ia mulai tidak sesuai dengan perkembangan kehidupan sosial-budaya saat ini.

Bandung, 20 Oktober 2011

18 September 2011

Cintaku Menggugat

Sudah lama aku mendambakan seseorang yang bisa setia menemaniku di setiap arus waktu yang kuarungi, baik di saat arus itu mengalirkan ujian kebahagiaan ataupun membawa cobaan kepedihan. Tentu ia haruslah yang terbaik, sempurna kalau bisa, agar bisa menutupi segala kekuranganku. Aku bodoh, maka ia harus cerdas. Aku pemarah, maka ia harus penyabar. Aku tak tampan, maka ia harus rupawan. Ia harus memiliki kelembutan jiwa untuk mematahkan kekakuanku. Ia harus dekat dengan Tuhan, agar bisa mengenalkanku pada-Nya. Dan yang terpenting ia harus rendah hati dan tidak sombong, agar bersedia menerima kekurangan-kekuranganku tadi.

Sampai suatu hari aku menemukannya. Kemudian selang sekian waktu mempertimbangkan berbagai hal serta menunggu waktu yang tepat, di sebuah taman aku memberanikan diri menyampaikan maksud hati yang sudah lama kupendam.

“Sudah lama sekali aku mencari seorang terbaik, dan kini telah kutemukan, dirimu. Aku mencintaimu, maukah kamu menjadi kekasihku?”

Aku yakin responnya akan positif, karena selama sekian waktu itu kami sudah sangat dekat. Tetapi sungguh mengejutkan, responnya meruntuhkan keyakinanku.

“Berarti aku tidak cocok untukmu.. Dan kata cintamu itu layak untuk diragukan, karena yang aku tahu cinta tidak seperti itu.”

“Loh? Kenapa?”

Kata-kata yang keluar dari mulutnya kemudian membuatku lemas.

“Kalau kau pindah dari tempatmu sekarang –tak perlu keluar kota– cukup ke lain kecamatan, kau akan temukan orang lain yang lebih baik. Dan dengan cara pandang seperti itu, aku pastikan kau bukanlah orang yang setia pada pasanganmu. Aku pulang, sampai jumpa..” Ia pergi.

Rasa penasaran yang hebat atas setiap kata yang ia ucapkan mengalahkan benih-benih kepedihan yang mungkin saja menjadi bakal patah hati atas tragedi penolakan cinta tersebut. Aku pun pulang dengan tertunduk. Sepanjang jalan hatiku terus bertanya-tanya, apa maksudnya bahwa cinta tidak seperti itu? Kenapa ia begitu yakin aku bukan orang yang setia?

Tak terasa sudah di depan rumah, langsung masuk kamar, lalu kulemparkan diri ke tempat tidur. Beberapa menit diam melamun menghadap langit-langit, perlahan mataku terpejam.

“Kau masih bingung, kawan? Kenapa kau tak tanyakan padaku?” tiba-tiba terdengar suara yang tak kukenal.

“Siapa kamu?” tanyaku, yang sepertinya masih dengan mata terpejam.

“Aku adalah sejenis Cinta yang ada dalam dirimu..”

“Apa maksudmu?” aku tak paham.

“Berhentilah menyalah-pahamiku. Sudah lama aku diam, kupikir kau akan berusaha memahamiku. Tapi sampai sekarang sama sekali aku tidak melihat satu bentuk usaha pun darimu. Aku bersabar menunggu, kalau tak mampu mencari paham sendiri aku berharap mungkin saja kau akan bertanya padaku langsung. Tapi mengecewakan, aku berada di dirimu saja kau tak tahu.”

“Hm?” aku semakin tak paham.

“Tidak ada lagi baik-jahat, cerdas-bodoh, rupawan-buruk rupa, ataupun sempurna-cacat jika kau benar-benar telah mengenalku. Pertimbangan-pertimbangan nilai seperti itu lenyap di hadapanku. Cinta ya cinta saja, tidak ada yang lain. Jika masih ada pertimbangan ini-itu, maka bukan cinta.”

Makhluk yang mengaku dirinya sejenis Cinta itu terus berbicara hal-hal yang sama sekali aku tak paham.

Ia melanjutkan, “Karenanya aku sendiri sering dibuat kesal oleh kaummu, yang seenaknya menyatakan cinta disertai pengagungan-pengagungan atas perasaan yang ia klaim sebagai cintanya tersebut. Misalnya ada diantara kalian yang menyombongkan diri bahwa cintanya cinta abadi, cinta yang tak akan punah oleh waktu. Kemudian yang lain lagi, memproklamirkan cintanya sebagai cinta yang mengandung kesetiaan total dalam keadaan suka ataupun duka. Dusta! Padahal seharusnya kalian berendah hati saja, mengakui dalam hati bahwa cinta kalian tidak ada yang seagung itu, cinta kalian terikat oleh kepentingan-kepentingan pribadi. Kalian yang menyatakan diri saling mencintai adalah akibat adanya kemanfaatan yang masing-masing kalian saling membutuhkan, jika manfaat atau rasa saling membutuhkan itu hilang, hilanglah pula cinta kalian. Setelah menyadari betapa lemahnya cintamu, seharusnya yang perlu kau lakukan kemudian hanyalah berusaha mewujudkan cinta tersebut semampumu, tak perlu ada proklamasi.”

“Dan yang terakhir wajib kau pahami,” ia menambahkan, “bahwa hanya Yang menciptakan cinta-lah Pemilik dan Pemberi Cinta Sejati. Kalian sama sekali tidak memiliki eksistensi di hadapan-Nya, lalu kenapa kalian begitu sombong?”

Sial, seenaknya saja makhluk itu banyak bicara, seolah-olah menggugat sesuatu dan memposisikanku sebagai pihak bersalah.

Belum sempat aku gugat balik, saat aku membukakan mata dan mulai terjaga ia sudah hilang. Padahal aku ingin membalikkan gugatannya dengan sebuah pertanyaan, “Kalau begitu, bukankah kau sendiri sombong dengan mengaku sebagai makhluk sejenis Cinta?”


Bandung, 18 September 2011

16 Juni 2010

Kalengan Cinta yang Bocor


Kalau Mbak atau Non atau Puan jadi ratu kecantikan, maka selama setahun bertengger di kursi jabatan tentulah dilarang kawin. Supaya safe hendaklah jangan pula pacaran, sebab pacaran itu selalu merongrong keperawanan, baik perawan kencur maupun perawan aspal hasil operasi pembaptis kemunafikan. Menjadi ratu kecantikan adalah puncak karier yang menggelikan hati, tetapi pokoknya soal cinta mesti dikalengkan dulu dan ditaruh di kulkas.

Seorang social worker wanita Filipina, dalam suatu workshop drama propaganda, gandrung pada seorang Arjuna Indonesia yang eksotik. Dan tatkala tali cinta telah memanjang dan membelit bagai Nogogini, tak bisa tidak menangislah Sembodro Tagalog itu; air mata dan kata-katanya tumpa, “I’m so confused… tak mungkin aku putuskan begitu saja apa yang telah tersambung erat, tetapi aku harus menghindarkan segala percintaan ini demi karierku…”
Ia adalah seorang aktivis perjuangan underground yang mengoposisi rezim Marcos. Untuk itu ia pantang dan dilarang kawin sebelum perjuangan mencapai hasil.
Di negeri kita banyak Kartini kontemporer menggalang karier di berbagai organisasi politik atau perusahaan-perusahaan yang membutuhkan konsentrasi, full disiplin, serta spesialisasi. Artinya bukan sang wanita sekedar menguasai suatu prof-skill spesialistis, melainkan bahwa ia mesti memasukkan dirinya bulat-bulat ke dalam sebuah karung spesial, paling tidak untuk waktu tertentu. Beberapa kabar burung mengemukakan bahwa ketika kemudian para wanita ini terlibat dengan Dewa Asmara maka terganggulah mekanisme usahanya. Terbengkalailah usahanya. Terbengkalailah karier dan perusahaannya.
Kenapakah mesti, setidaknya dari ketiga contoh di atas, terjadi korsleting antara cinta dan dan karier? Kenapa pula kabar-kabar mengangkat kasus itu hanya dari para wanita, dan tidak (setidakya kurang) dari para lelaki? Kenapa juga para sastrawan suka mendukung asumsi ni dengan cerpen-cerpen “di antara karier dan cinta”?
Kalau benar cinta itu subversif terhadap stabilitas karier, maka alangkah malang hidup. Padahal wanita Indonesia kini sedang sibuk memperjuangkan eksistensinya. Kami ini ada lho, sebagaimana lelaki ada. Kami bisa berbuat, sebagaimana lelaki berbuat. Orang-orang jangan hanya ngomong how big, how rich, how powerfull he is. Ganti 50% he itu dengan she. Jangan cuma he rule the universe, tapi juga she does. Lelaki jangan mentang-mentang. Lihat Indonesia punya menteri wanita. Baca koran dong tentang lurah dan camat wanita. Perempuan bukan sekedar penjaga tungku atau kanvas diam dungu yang pasif dilukis seenak udel oleh kaum lelaki. Ada beribu dokter wanita, insinyur, doktor, M.A., M.F.A atau judul-judul lain untuk kaum sekolahan. Sopir truk wanita? Ada. Pun pemain sepakbolayang bagaikan Carolina Rummenige, Maradoni, Pele (biar wanita tetep Pele juga namanya), ataukah Fauziah yang tak kalah melawan Fawzi. Berikan dunia ini kepada kaum wanita, mereka akan menawarkan kedamaian dan kebahagiaan seperti yang dikandung alam semesta. Wanita adalah duta-duta Tuhan, yang menyuapi mulutmu dengan cinta kasih dan keabadian.
Jadi kenapa gerangan, untuk hal-hal tertentu, kaum wanita ini menolak cinta. Adakah itu sekedar teknis pengorganisasian kerja hidup mereka, ataukah ada filsafat tertentu yang melatarinya. Dalam badan hidup ini, apa sesungguhnya yang disebut cinta?
Rumah-rumah tradisional di Jawa, misalnya, menggambarkan tatanan ruang kejiwaan di dalam diri masyarakatnya. Pendopo atau ruang depan yang lebih luas dari privat room mereka menunjukkan semacam penyediaan sikap social yang luas. Konsep privacy bahkan hamper tak ada karena ruang dalam rumah mereka pun begitu social. Di bagian manakah dari rumah itu yang menjadi symbol cinta?
Barangkali roh cinta itu tak tertubuhkan lewat sekat ruang. Atau mungkin nyawa cinta kasih itu justru terungkap pada keseluruhan bangunan rumah itu termasuk pendopo-sosial yang begitu luas. Apakah sesungguhnya sang cinta, yang suka menjadi penembak misterius jantung wanita?
Ketika seorang “wanita karier” menunda urusan cinta-mencinta, seolah-olah ia memiliki konsep bahwa cinta adalah sebuah bilik yang untuk sementara digembok saja dulu. Nanti kalau karier sudah mapan bisa dibuka kembali dan lelaki idaman hati silakan masuk.
Kata karier sebenarnya tumbuh dalam suatu sistem nilai budaya tertentu di mana etos individualisme sangat menjadi pokok soal. Dalam ungkapan kasar karier adalah perjuangan individual yang menyibak jalan lingkungan, artinya memakai atau mengeksploitasi apa saja di sekitarnya untuk kepentingan kariernya. Etos ini memberi resiko ketika seseorang berhadapan dengan kemungkinan bercinta. Roh cinta kasih yang semula bersifat sosial-universal-tungggal-dalam Tuhan, tersaring menjadi hasrat individual. Individualitas yang satu dengan Tuhan dan alam semesta, artinya dengan sekalian masyarakat makhluk, tereduksi menjadi cinta kasih sebuah ego. Kemudian berdasarkan suatu pemikiran pengorganisasian hidup yang rasional, analisa dilakukan, dan itu menghasilkan pengkotakan makna cinta. Yang disebut cinta hanyalah hasrat hati kepada lawan jenis. Dan jika itu diungkapkan, wujudnya ialah bahwa cinta merupakan salah sebuah kamar di dalam rumah. Kamar yang lain adalah studi, karier, ekonomi, atau kegiatan politik. Kamar satu dengan yang lainnya saling merasa asing. Risikonya ialah terjadinya jebakan-jebakan adab budaya komunitas manusia, sekaligus kebutuhan-kebutuhan psikologis di dalam individu per manusia.
Karena itu sukar menapasi kuku politik dengan udara cinta, mustahil membangun ekonomi dengan solidaritas kasih, atau sukar memasukkan kata cinta dalam konteks yang mendasar dalam paper atau skripsi di universitas. Cinta sungguh-sungguh menjadi urusan cengeng seseorang dalam bilik kostnya atau Plawangan Kaliurang atau Puncak, seperti sembahyang juga terbatas menjadi urusan geografi sebuah rumah ibadah.
Layak pulalah kalau seseorang yang menempuh karier harus menyisihkan urusan cinta jauh-jauh di dalam bilik hatiya. Sebab cinta yang dimaksud ialah cinta egonya belaka. Cinta sebuah ego memang sukar diorganisasikan untuk tidak korsleting dengan mekanisme sebuah perusahaan. Sistem nilai yang berlaku memang hamper tidak memberi peluang bagi makna cinta yang lain, yang lebih luas.
Padahal cinta itu tenaga, seperti juga nafsu. Keinginan seksual tidak harus 100% diwujudkan lewat persenggamaan. Cinta bisa member power bagi kegiatan apa saja, tergantung pengendaliannya dan kemampuan transformasinya.
Tenaga cinta tidak mutlak harus (hanya) terungkap lewat kosentrasi kepada lawan jenis, meskipun alternative itu memang amat menonjol. Seorang wanita yang mampu mengendalikan kejiwaannya dimana motor cinta bersemayam, tak perlu kelabakan ketika terjadi “benturan” antara kesuntukan karier dengan berseminya cinta kepada seorang Arjuna. Sumber kelabakan itu ialah jika ia mengakumulasi tenaga di sebuah kalengan atau kamar tertutup. Bisa meledak jika dirangsang oleh api, atau setidaknya menjadi bocor. Semua barang yang bocor memang nggak baik.
(Emha Ainun Nadjib – Menturo, Desember 1983)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More