Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

09 Juni 2012

Gaga Gigi Gugu


Menjelang siang, sekitar pukul 10.37 WIB, seseorang datang bertamu ke rumah Gigi. Tamu itu tampak asing, meyakinkan Gigi bahwa Si Tamu bukanlah kenalannya. Selain wajah yang tidak dikenal Gigi, penampilan yang aneh juga memastikan bahwa Si Tamu bukan warga desanya. Tapi Gigi tetap menyambutnya dengan baik: dipersilakan masuk, diberi kursi, dihidangkan makanan, serta minuman agar tidak kehausan. Ditanya nama oleh Gigi, Si Tamu menjawab, “Gaga.”

Gaga itu wanita, padahal di dalam rumah Gigi sendiri ada lima pria, manusia semua. Tidak masalah, Gaga sekedar bertamu. Insya Allah aman. Lagipula semua pria di rumah Gigi itu bermoral, beradab dan sangat patuh agama. Itu terbukti, walaupun mereka anak band tapi pakaiannya sopan-sopan, dan lagu-lagu yang mereka bawakan saat manggung juga penuh pesan moral. Saat itu saja, dari salah satu kamar, sayup-sayup terdengar berturut-turut lagu qasidahan macam Perdamaian, Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya, Sajadah Panjang, dll. Eh, padahal yang tinggal di situ tidak semuanya muslim lho, hebat ya?

Gaga dan Gigi banyak berbincang-bincang, yang dari situ diketahui bahwa Gaga adalah seorang biduanita. Katanya, “Saya ini penyanyi, Mas. Wajar kalo pakaian saya begini. Tidak umum dan agak sexy gitu ya, Mas?” Gigi tersenyum. Ya, cuma senyum yang bisa dikasih Gigi. Gaga melanjutkan, “Pakaian kayak gini ini juga kan bagian  dari seni, merupakan ekspresi jiwa pemakainya, penuh nilai-nilai kreativitas. Ini seni, dan saya artis. Wajar kan, Mas? Dalam seni kita bebas berekspresi ‘kan, Mas?” Gigi senyum lagi.

“Iya, Mbak...” Gigi melanjutkan senyumnya, “Mbak nyaman nggak berpakaian kaya gitu?” Gaga menjawab pendek, “Nyaman.” Gigi menambah pertanyaan, “Kira-kira orang lain, masyarakat, semua orang di sekitar Mbak, nyaman juga nggak ya?”

“Wah, mana saya tahu, Mas. Saya nggak peduli. Kalo nggak nyaman ya tinggal jangan dilihat,” jawaban Gaga. “Nggak bisa gitu dong, Mbak. Kan kita hidup bareng-bareng dalam masyarakat, jadi kebebasan kita itu dibatasi oleh kebebasan orang lain,” begitu menurut Gigi. “Banyak yang suka juga kok, Mas.” kata Gaga ngeyel.

“Ya, sudah.” sedikit kesal, Gigi ingin menghentikan perdebatan. Menurut Gigi, kalau itu diteruskan maka akan berkepanjangan. Arahnya akan menuju tema-tema: moral, etika, karakter bangsa, aturan agama, seni yang bermartabat, rupa-rupa. Bisa-bisa Gigi hilang kendali amarahnya lebih dulu. Masih menurut Gigi, katanya ekspresi jiwa itu muncul sesuai dengan bagaimana jiwa itu sendiri berkembang dan terbentuk. Sedangkan faktor yang membentuk jiwa itu tidak main-main: pendidikan (dalam arti luas), nilai-nilai yang diserap dari masyarakat, perenungan yang mendalam, dan lain-lain yang begitu-begitu itu lah. Kesemuanya memerlukan waktu lama, prosesnya panjang. Nasehat biasa, apalagi sambil marah-marah dan menunjukkan sikap penolakan, tidak akan membalik keadaan jiwanya. Kecuali Gigi diberi waktu beberapa hari mengawasi dan membimbing Gaga.

“Ngomong-ngomong angin apa yang membawa Mbak sampai ke rumah saya?” Gigi melanjutkan. “Gini, Mas... Saya mau minta dukungan. Mas dan teman-teman yang di sini juga penyanyi kan? Saya minta dukungan, mau konser di desa ini.” Gaga menjelaskan maksud kedatangannya.

“Waduh...” Gigi bingung, campur curiga, bukan su’udzon. Kira-kira konser musik macam apa yang bakal dibawakan oleh biduanita macam ini, begitu pikir Gigi. “Konser ya konser aja, Mbak. Tapi kalau masalah dukungan, ma’af nggak bisa, Mbak. Mendingan Mbak menghubungi kepala desa atau lurah di sini, minta izin saja dari mereka.”

“Itu dia, Mas. Buat mempermudah perizinan dari mereka, saya perlu dukungan dari Mas.” Gaga memohon. “Kami di sini bukan siapa-siapa, Mbak. Bukan orang yang punya pengaruh, sampai bisa mengubah keputusan pihak berwenang di sini. Tanpa dukungan kami, kalau memang konser Mbak tidak bermasalah, insya Allah diizinkan.” Gigi masih tidak bersedia.

“Oke, baiklah kalau begitu. Saya akan coba minta perizinan langsung ke kelurahan. Saya undur diri, Mas.” Gaga pamit. “Ya. Silakan, silakan.. Ma’af nggak bisa membantu banyak.” Gigi mempersilakan. “Nggak apa-apa, Mas. Terimakasih sudah meluangkan waktu.” Gaga melanjutkan. “Sama-sama.” jawab Gigi pendek. Setelah Gaga meninggalkan tempat, Gigi tampak senyum-senyum. Senyum yang tidak biasa.

***

Gigi memperlihatkan senyum itu lagi beberapa hari kemudian, saat melihat sekelompok orang di lapangan dekat rumahnya. Mereka seperti sedang mendirikan panggung, dan di sana ada Gaga juga tampak sedang mengawasi. Ternyata konser itu diizinkan.

Besoknya konser dimulai. Momen yang ditunggu Gigi akan segera bisa disaksikan, yang juga akan menjelaskan maksud senyum tak biasa itu. Musik sudah meraung-raung sejak tadi, suara Gaga juga jelas terdengar, tapi entah apa yang dia nyanyikan. Tidak paham. Di lain sisi, Gigi yang dari kemarin seperti merencakan sesuatu justru masih terlihat santai di ruang tamu rumahnya, membaca koran sambil ngopi.
Beberapa saat kopi habis, baru Gigi bergeming dari kursi, berjalan keluar. Gigi menuju lokasi konser, tiba, dan mengamati. Konsernya tidak jauh dari yang dibayangkan Gigi sebelumnya, hot! Ramai, banyak peminatnya juga konser musik seperti ini, pikir Gigi. Lalu Gigi pulang.

Sampai. Gigi masuk lagi ke rumah. “Hahahaha~!!” tahu-tahu meledak tawa Gigi. Empat temannya yang memang sama sekali tidak tertarik dengan konser musik di sebalah rumahnya berhamburan keluar dari kamar masing-masing. “Kalian harus malu!” Gigi teriak ke teman-temanya sambil masih terpingkal. “Kita harus malu!” Gigi teriak lagi. “Ulama di desa ini harus malu! Kaum beragama di desa ini harus malu!” masih belum jelas maksud teriakan Gigi ini. “Apa maksudmu?” salah-satu temannya bertanya.

“Diam-diam aku jadiin Gaga, cewek yang kemarin bertamu itu lho, sebagai sarana penelitianku.” suara Gigi menurun. “Konser musik yang dia adakan bisa jadi indikator yang cukup valid untuk mengukur sebijak apa warga desa, terutama muslimnya, dalam menghadapi “serangan” macam itu.” Gigi menjelaskan.

“Terus?” temannya masih bingung. “Menurut informasi yang aku peroleh, di desa lain Gaga itu tidak diizinkan mengadakan konser, ya mungkin karena begitu konsernya. Tapi aku senang waktu tahu ternyata dia justru diizinkan di sini.”

Loh, kok malah senang?” teman yang lain memotong. “Kepala desa di sini sepertinya paham betul mengenai undang-undang negara yang memang memberi kebebasan pada warganya untuk berekspresi.” Gigi melanjutkan. “Nah, sekarang Gaga itu sudah kuanggap jadi guru.”

“Apa lagi kau ini, Gi! Ada-ada saja!” temannya memotong lagi. Gigi melanjutkan lagi, “Tentu saja bukan guru yang patut untuk digugu dan ditiru. Seperti pepatah: pengalaman adalah guru terbaik, tentu pengalaman buruk bukan untuk diulang kan?”

“Maksudnya guru yang secara tidak langsung sudah ngasih aku pelajaran, memberi informasi yang sangat berharga. Bahwa kita harus banyak mengoreksi diri.”

“Terus?” jelas, kejelasan belum sampai pada temannya yang satu ini. “Kalau memang kita bangsa yang bermoral, beradab, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan beragama, tentu tidak akan ada konser macam itu. Kalaupun ada, kita tidak akan menonton dan menikmatinya. Makanya kemarin aku mempersilakan Gaga itu mengadakan konsernya, tapi untuk mendukungnya, aku tidak mau. Sebab sebelumnya aku yakin konser itu bakal sepi, tidak akan ada penonton. Tapi aku salah besar! Kita seharusnya sudah mulai membenahi diri, dan tidak sibuk dengan apa yang ada di luar. Kita terus mencurigai kelompok-kelompok tertentu sedang menyerang kita. Bukannya segera memperkuat benteng pertahanan, kita malah sibuk mencari-cari keburukan mereka untuk kemudian dijadikan sumpah-serapah.” rupanya penjelasan Gigi terlalu pajang, teman-temannya sudah tidak ada yang mendengarkan.

Cirebon, 1 Juni 2012

06 April 2012

Mengejar Sisi Terang Langit

Di sini memang sedang gelap
Cahya yang kau mau ditutup oleh hitam
Di sini memang tampak seram dan suram
Tapi tunggulah sebentar
Akan tiba butiran bening yang segar
Tunggulah saja, sabar
Jangan dulu mengejar
sisi terang langit yang sangar
Apa?
Kau tak tahu di sana sangat membakar?
Iya, di sini saja sabar.

Cianjur, 06 April 2012

26 Februari 2012

Mike!


Harinya sedang Kamis, tanggalnya sedang 23 Februari, itu tiga hari yang lalu, kira-kira ba’da ashar aku sapa beberapa teman lama via layanan pesan pendek (SMS). Iya, menyapa via pesan pendek. Itu artinya begini, kalau temanku bernama Michael, kukirim pesan “Mike!”

Ah, contohnya tidak relevan, tidak sesuai dengan kultur orang-tua teman-temanku dalam memberi nama anaknya. Tidak ada temanku yang namanya seperti itu. Ganti contoh, misalkan saja temanku itu sama orang-tuanya dikasih nama Radimo, kukirimi dia pesan “Mo!” Iya, begitu. Pendek banget kan? Iya lah, ini pake layanan pesan pendek.

Jangan tanya apa alasanku mengirimi pesan seperti itu, aku sendiri tidak paham. Tiba-tiba saja ingin begitu. Dan jangan pula menyebutku pengangguran! Karena kulakukan itu juga waktu lagi ngerjain tugas perkuliahan.

Semua membalas dengan pesan yang relatif sama, “Ada apa, Mex?” Kecuali mereka yang membalas, “Ini siapa ya?” Sial, karena sudah terlalu lama tidak berkomunikasi mungkin nomerku terhapus dari memori mereka. Tapi tidak masalah, karena setelah kukirim namaku mereka masih ingat. “Oh.. Sori, Mex. Ada apa?” itu mereka malah ikut-ikutan mayoritas, membalas dengan pertanyaan yang sama. Ya sudah, kubalas mereka semua dengan pesan yang sama, “Lagi ngapain, Mike?”

Aduh, itu Si Mike muncul lagi. Maksudnya itu sekedar contoh, aku menyebut sapaan pendek masing-masing temanku di akhir kalimat tanya tersebut.

Barulah balasan selanjutnya beragam. Nah, assik kan kalo gini..

Itu mereka ada yang sedang menunggu dosen, ada yang sedang pusing nyari masalah buat diteliti, ada yang sudah kerja di kantor, ada yang sudah melepas lelah sepulang kuliah, ada yang baru selesai studi banding, ada yang baru mulai makan, ada yang lagi bengong, juga ada yang tidak membalas, macam-macam. Itu yang tidak membalas mungkin sedang sibuk, sibuk dengan urusannya, urusan yang biasanya begitu serius. Mudah-mudahan kau tetap jaya-sentosa dalam menghadapi urusanmu, kawan!

Walaupun memang sebelumnya aku banyak menerima pesan semacam “Aneh pisan sih, Mex..” tapi aku senang sekali. Dari situ ngobrol berbeda-beda topiklah aku dengan mereka, mereka itu teman-teman yang sudah lama tidak ngobrol-ngobrol denganku. Bahkan ada yang sampai rela menyisihkan pulsanya demi meneleponku. Ah, bahagia sekali aku hari itu, walaupun sampai hari ini masih bahagia tetap saja bisa disebut bahagia sekali.

Sambil kedinginan di Bus Bhineka ber-AC plat D 7930 AE jurusan Cirebon-Bandung,
26 Februari 2012

01 Januari 2012

Jangan Bercita-cita

Senang sekali menerima respon teman-teman saat melalui layanan pesan pendek kutanyai tentang cita-cita mereka sewaktu kecil dulu. Sekiranya itu akan membuat kenangan mereka kembali pada usia pra-sekolah, TK, sampai SD yang memang sedang sering-seringnya menerima pertanyaan macam itu. Orang tua, sanak-saudara, tetangga, guru, semua menanyakan apa cita-cita kita. Lingkungan menanamkan pada diri kita untuk harus, mesti, wajib memiliki cita-cita. Kita yang kesulitan menjawab pertanyaan ini langsung dianggap tidak akan menemukan masa depan yang cerah.

Padahal, setelah kupikir-pikir ternyata cita-cita itu tidak begitu penting. Seorang anak tidak harus memiliki cita-cita. Tidak perlu guru atau orang tua mewajibkan, atau bahkan sampai memaksa, anaknya punya cita-cita tinggi. Lah, Tuhan saja tidak mewajibkan kok! Misalnya saja dari dasar agama yang kuanut, Islam, tidak ada suruhan bercita-cita di sana. Yang ada itu tholabul ‘ilmi faridlotun ‘ala kulli muslimin walmuslimat, muslim cowok dan muslim cewek berkewajiban menuntut ilmu. Yang utama tentu ilmu yang wajib kita punyai, kemudian ilmu yang ingin kita ketahui, atau ilmu yang kita sukai, ilmu apa saja. Dari situ kita belajar, menemukan berbagai pengalaman.

Disertai kondisi-kondisi tertentu dan berbagai pengalaman inilah yang sebenarnya kemudian menciptakan cita-cita dengan sendirinya, tidak ada paksaan. Terbukti dari survei terhadap teman-teman yang aku adakan. Mayoritas cita-cita mereka berubah di setiap jenjang sekolah, berubah setelah menerima berbagai informasi dan pengalaman. Ada yang bercita-cita menjadi pilot, tapi karena melihat sering terjadinya kecelakaan pesawat cita-citanya ganti. Ada yang bercita-cita menjadi dokter anak, tapi karena ketemu fisika di SMP tidak sukalah ia pada IPA dan berubah cita-citanya. Ada yang ingin jadi pramugari, tapi karena mata minus gugurlah cita-citanya. Rupa-rupa. Artinya, cita-cita muncul setelah adanya proses menuntut ilmu, belajar, menerima berbagai informasi, dan macam-macam pengalaman.

Sampai di sinipun cita-cita masih kuanggap tidak begitu penting. Karena ujungnya menjadi apa kita kelak adalah ‘sekedar’ konsekuensi dari proses belajar kita. Lah, bukannya cita-cita itu tujuan ya? Bagaimana proses bisa berlangsung tanpa adanya tujuan?

Betul! Proses gak akan berlangsung sebelum dilengkapi dengan adanya tujuan. Tapi kurang tepat kalau dikatakan bahwa cita-cita adalah tujuan, sebab ini akan berbahaya. Tujuan kita berpacu dalam proses itu, menurutku, mestinya adalah sesuatu yang kita cintai. Terserah apa yang mau dicintai, pengalaman belajar akan menuntun kita untuk menemukan sesuatu yang benar untuk kita cintai, tidak akan menuju pada sesuatu yang buruk. Yang terpenting jangan berhenti belajar, tidak punya cita-cita bukan masalah.

Kalau kita menjadikan cita-cita sebagai tujuan belajar, tujuan aktivitas menuntut ilmu, tujuan sekolah kita, tujuan kita bekerja, maka inilah yang kucurigai sebagai pemicu banyaknya perilaku korup di negeri ini. Weits! Serem amat...

Setidaknya kita akan memiliki potensi bertindak korup terhadap diri kita sendiri, jika menjadikan cita-cita sebagai tujuan. Ini juga yang kudapat dari survei iseng-isengan itu. Banyak teman yang sekarang menempuh pendidikan di bidang yang di dalamnya ia tidak menemukan passion. Rela membunuh kesenangannya pada suatu bidang tertentu demi menjalani bidang lain yang dianggap bisa mengarahkannya pada cita-cita. Ya tidak usah jauh-jauh, aku sendiri contohnya, juga banyak aku temui teman lain di lapangan yang mengeluh “salah kamar” setelah menjalani perkuliahan dua-tiga semester. Di SMA dulu, sama, keluhan “salah kamar” juga sering terdengar. Itu semua demi mengejar cita-cita yang sebenarnya tidak wajib dimiliki.

Kemudian yang lebih buruk, hari ini banyak diantara kita yang ngotot, mati-matian, peras keringat-banting tulang hingga menghalalkan segala cara untuk mewujudkan cita-citanya. Karena bukan didasari cinta, pelajar malas belajar. Sudah malas belajar, maka tak mampu mengikuti pembelajaran, nyontek lah saat ujian ataupun saat mengerjakan tugas. Karena ingin cepat mencapai yang dicita-citakan, perilaku koruplah yang diperagakan oleh calon pegawai itu. Karena bercita-cita cepat sukses, perilaku koruplah yang diperankan oleh profesional-profesional itu. Karena bercita-cita cepat kaya, perilaku koruplah yang dimainkan oleh pengusaha-pengusaha itu. Pendidikan dan lingkungan yang mementingkan “cita-cita” daripada “proses (belajar)” membuat anak-anak tumbuh menjadi seperti itu saat dewasa. Maka kelak lebih baik anak-anakku jangan bercita-cita! Bercinta-cinta saja... :) © WaaLlahu’alam bishshawab


Bandung, 01 Januari 2012

20 Desember 2011

Galau Balau

Katanya salah satu orang terbrengsek di dunia ialah yang ngajarin orang lain nglakuin sesuatu, tapi ia sendiri gak nglakuin. Dengan dasar idiom tersebut, brengsek jugakah ia yang nglakuin sesuatu, tapi ngajarin orang lain untuk tidak nglakuin hal serupa?

Sepertinya brengsek juga, keduanya menggambarkan hal yang sama: kemunafikan. Perkara mewujudkan kesatuan kata dan perbuatan ini memang sulit. Aku yang sekarang sedang menempuh pendidikan berlatar belakang keguruan sudah sejak beberapa hari lalu mengalami kegalauan mengenai suatu jenis kemunafikan.

Sejenis kemunafikan yang mungkin akan sangat berbahaya bagi kelangsungan rasa aman dan nyaman psikologisku sebagai seorang guru kelak. Tidak hanya itu, mungkin ini akan begitu merugikan mereka yang menitipkan anak-anaknya kepadaku untuk dididik. Masih ada lagi, aku yaqin kemunafikan ini juga akan merusak mental dan moral anak-anak yang akan kudidik. Anak-anak yang kudidik ini kemudian akan terjun ke masyarakat, mungkin masuk dalam pemerintahan, yang pada akhirnya gara-gara sejenis kemunafikan yang kuperbuat mungkin saja negara ini akan hancur perlahan. Ini akan benar-benar menuju pada kegalau-balauan yang nyata, kita akan kacau beramai-ramai satu bangsa satu tanah air.

Kegalauan itu mulai mencabik-cabikku saat muncul pertanyaan, pertanyaan dariku untukku sendiri: aku ini calon guru, bagaimana mungkin aku nyontek? Bagaimana kelak akan menasehati murid-murid untuk tidak nyontek, sedangkan dulu saat sekolah/kuliah gurunya ini gemar nyontek juga? Terkutuklah Si Guru! Tapi sepertinya sama sekali tak pantas ia disebut guru. Terkutuklah Si Brengsek Pencontek Yang [akan] Berprofesi Sebagai Guru ini! Terasa lebih tepat. Atau kalaupun aku tidak ditakdirkan menjadi seorang guru, pastinya aku akan menjadi seorang ayah dari anak-anakku. Bagaimana kelak akan menasehati mereka untuk tidak nyontek kalau ternyata ayahnya ini pencontek ulung? Ah, terkutuklah aku!

Kalau diteruskan, calon guru yang suka nyontek macam aku ini juga bisa membusukkan nafas seni kebudayaan, membunuh kreativitas anak-anak didiknya yang sebagai calon seniman. Lihat itu, tontonan-tontonan musik yang sedang marak di tivi: monoton. Tak berwarna-warni, satu pemusik dengan pemusik lainnya menawarkan warna musik yang sama, atau ada pula yang cuma bisa membawakan lagu orang lain. Apalagi itu pemusik yang biasanya terdiri dari beberapa cowok/cewek sekedar bermodal tarian plus mulut komat-kamit lip-sync, lebih buruknya: katanya pada tarian dan lagu-lagu mereka sering ditemukan kemiripan dengan pemusik dari bangsa lain. Masa urusan tari dan nyanyi pun kita nyontek? Aduh, galaulah kesenian kita!

Ya, itu bukan salah mereka. Generasi kita adalah generasi korban. Korban dari sistem pendidikan yang menuntun kita untuk jadi seperti itu. Korban dari mata pelajaran Ketrampilan Tangan dan Kesenian (KTK) yang hanya bisa mengajarkan kita menggambar pemandangan dua gunung disertai lingkaran matahari di atasnya dan petak-petak sawah di bawahnya, gambar itu terus dicontekkan dari generasi ke generasi. Korban dari orang-orang berprofesi guru yang tidak memiliki kekuatan moral untuk menasehati kita agar tidak usah nyontek saat ujian, mungkin dikarenakan si guru juga bisa berprofesi guru hasil dari nyontek.

Kebetulan kesadaran ini muncul sebelum dilaksanakannya “ibadah” rutin Ujian Tengah Semester (UTS), hingga aku bisa langsung menguji-coba konsistensi kesehatan moralku sendiri. Setelah menemukan kesadaran mengenai buruknya nyontek, mampukah aku menahan diri untuk tidak melakukannya di sini (UTS) dan seterusnya di manapun kapanpun?

Empat mata kuliah yang di-UTS-kan berhasil aku mainkan dengan sehat dan bersih secara pribadi, disebabkan oleh suatu hal yang tidak ingin aku sebutkan, takut riya’. Takut riya’ bahwa memang aku sudah mempersiapkan diri menghadapi UTS dengan belajar seoptimal yang aku mampu. Tidak ingin aku sampaikan pula bahwa sampai-sampai aku sudah membentuk tim belajar untuk UTS ini. Secara pribadi aku sudah berusaha sekuat daya untuk menghindari nyontek saat ujian. Bahkan sebenarnya sampai pada tugas harian pun aku coba memurnikannya dengan usahaku sendiri. Salah-satunya tugas pembuatan makalah berkaitan dengan masalah sosial, aku dan kelompokku mengangkat masalah yang belum pernah diangkat orang lain. Sehingga mau tidak mau harus menulis sendiri bab pembahasannya, tidak seperti biasanya yang cuma hasil menekan tombol CTRL+C dan CTRL+V. Namun secara sosial aku masih buruk. Di salah-satu mata kuliah aku sudah menyakiti dan mengotori temanku sendiri, teman yang saat ujian duduk di sebelahku, ia banyak bertanya mengenai soal yang diberikan dosen. Dan karena tidak mampu mengacuhkannya, ya aku jawab.

Kalau melihat Formulir Rencana Studi (FRS)-ku semester lima ini terdaftar delapan mata-kuliah yang kukontrak, maka masih tersisa empat mata-kuliah lagi. Satu diujikan take-home, satu diganti dengan tugas pembuatan makalah, satu tidak di-UTS-kan sama sekali, dan yang terakhir diuji-tuliskan seperti empat mata-kuliah di awal kusebut. Mata-kuliah terakhir inilah yang membuktikan bahwa moralku masih belum sehat. Ia menekanku lewat materi-materi hafalannya yang menjengkelkan untuk melaksanakan ujian open-book secara ilegal. Dan aku belum cukup kuat menahan tekanannya.

Oleh sebab konsistensi kesehatan moralku yang masih meragukan seperti itu, sebenarnya aku takut akan menjadi seorang munafik gara-gara tulisanku yang satu ini. Kupaparkan pada Anda hal-hal buruk yang mungkin terjadi akibat menyontek, tapi nyatanya aku sendiri masih belum mampu jauh dari aktivitas contek-menyontek. Apa tidak usah ku-publish saja tulisan ini? Agar tidak ada yang membacanya, agar hanya menjadi pengingat bagi diriku sendiri. Dengan begitu, aku menyontek atau tidak setelah adanya tulisan ini tidak akan ada pertanggungan-jawab sosialnya. Bagaimana menurutmu? Tidak usah di-publish ya? Tapi ini masalah yang sangat penting, berkaitan dengan nasib bangsa dan negara, publik harus tahu. Aduh, gimana ya enaknya? Ma’af, aku lagi galau.. © WaaLlahu’alam bishshawab

Bandung, 20 Desember 2011

19 Desember 2011

HAM: Sebuah Logika Terbalik*

*Disampaikan saat presentasi mata-kuliah PLSBT (Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi)

BAB III
PEMBAHASAN


1.    Logika Terbalik Perumusan HAM
Di bab sebelumnya telah disebutkan secara rinci mengenai latar belakang lahirnya ide hak asasi. Ide HAM lahir dari pemikiran bangsa barat di beberapa negara, seperti Yunani, Inggris, Amerika, dan Perancis. Jika diperhatikan, dari data sejarah yang menyatakan latar belakang munculnya HAM di negara-negara tersebut ternyata kesemuanya membentuk pola yang sama. Pola tersebut tampak jelas menunjukkan bahwa HAM muncul akibat perampasan hak-hak rakyat oleh pemimpinnya yang dzalim.

Kesewenang-wenangan para pemimpin itu lah yang mendorong bangsa-bangsa tersebut untuk melawan, memberontak, mencoba merebut kembali hak-haknya yang telah dirampas. Perjuangan melawan pemimpin dzalim tersebut tidak hanya dilakukan melalui usaha-usaha yang bersifat fisikal, seperti peperangan. Muncul juga perjuangan dari para pemikir, seperti John Locke (Amerika) dan Lafayette (Perancis), yang menyadari akan berharganya kehidupan dan kebebasan hidup saat orang-orang di sekitarnya dikekang oleh pemimpinnya.

Melihat hak-hak rakyat yang dirampas oleh pemimpinnya, para pemikir ini kemudian merumuskan aturan atau hukum  tentang suatu hak dasar yang mutlak dimiliki oleh setiap manusia sejak ia dilahirkan, itu lah yang sampai saat ini dikenal sebagai hak asasi. Bagi siapa saja yang merampas hak tersebut dari seorang manusia, ia akan dihukum karena telah melakukan semacam kejahatan, pelanggaran hak namanya. Dengan bersenjatakan pemikiran tentang HAM ini, perjuangan rakyat semakin kuat dan pemimpin-pemimpin dzalim mampu ditumbangkan.

Dari situ, ide tentang HAM ini tampak sangat brilian hingga hari ini. Sampai kami menemukan semacam kekeliruan mengenai ide HAM ini. Yang kemudian kekeliruan pemikiran ini kami sebut sebagai logika terbalik. Sebenarnya tampak jelas bahwa kejahatan yang terjadi di masa lampau, yang melatar-belakangi munculnya ide tentang HAM, adalah pelanggaran kewajiban oleh para pemimpin untuk melindungi hak hidup dan hak berpenghidupan rakyatnya. Maka yang muncul seharusnya adalah ide untuk merumuskan hukum yang mengatur tentang kewajiban-kewajiban macam itu, kita bisa menamainya kewajiban asasi manusia (KAM). Dan bagi siapa saja yang merampas hak seorang manusia, ia akan dihukum karena telah melanggar kewajibannya. Seperti apa yang Tuhan ajarkan melalui kisah manusia pertama, Adam-Hawa, bahwa pelanggar kewajiban lah yang diberi hukuman.

2.    Efek Psikologis Logika Terbalik HAM
Sekilas mungkin masalah yang kami angkat ini tampak sepele, ini hanya masalah perbedaan istilah. Tentu saja tidak sesederhana itu, jika saja kita peka terhadap efek yang timbul akibat logika terbalik ini. Efeknya memang sedikit tak kasat mata karena bersifat psikologis, tapi secara tidak langsung efek itu tampak jelas dari perilaku masyarakat kita sekarang yang sudah terlalu memandang HAM secara sepihak.

Sudah menjadi sifat dasar manusia yang cenderung mementingkan kepentingan pribadinya di atas kepentingan orang lain. Tapi sebagai manusia yang ber-Tuhan, melalui agama kita diharuskan untuk mampu me-manage sifat dasar ini. Selain itu, sebagai makhluk sosial dan demi terciptanya kemesraan bermasyarakat tentu kita harus mampu menekan sifat ini. Sebaliknya, yang terjadi hari ini HAM perlahan secara tidak disadari oleh kita justru telah membentuk masyarakat yang lebih suka menuntut.

Kepala kita melulu diisi tentang hak, secara psikologis tentu akan membentuk kita yang lebih memperhatikan kepentingan diri sendiri daripada kepentingan orang lain. Jika dalam melaksanakan hak, kita tidak memperhatikan hak orang lain, maka yang terjadi adalah benturan hak atau kepentingan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara seperti yang terjadi dalam beberapa kasus di bab sebelumnya.

1.      Hukuman Mati
Seorang pembunuh bisa lepas dari hukuman setimpal, hukuman mati, akibat logika terbalik mengenai hak asasi. Hukum yang ada saat ini sudah dimasuki ide tentang HAM sehingga terkesan lemah dengan menyatakan bahwa pelaku pembunuhan tidak harus dihukum mati. Hukum saat ini mempertimbangkan hal tersebut dengan dasar HAM, bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.
Hukum seolah-olah melindungi kehidupan, tapi menurut kami hal ini justru tidak menghargai kehidupan. Hukum melupakan hak hidup korban yang telah dirampas pelaku. Berpikir lebih jauh, ketidak-tegasan hukum tersebut tidak akan menimbulkan efek jera bagi pelaku ataupun memberi rasa takut bagi “calon pembunuh”, sehingga membuka peluang terjadinya pembunuhan semakin banyak. Artinya, hukum lebih memilih hak hidup satu orang pembunuh daripada melindungi ratusan atau bahkan ribuan hak hidup lainnya.

2.      Remisi
Lagi-lagi hukum kehilangan ketegasannya akibat dimasuki ide HAM. Pelaku kejahatan bisa memperoleh potongan hukuman atas dasar pertimbangan hak asasi, tanpa mempertimbangkan akibat kejahatan yang telah dilakukannya. Misalnya, pelaku korupsi hanya dengan alasan berkelakuan baik, ia diberi potongan masa tahanan. Padahal jika kita melihat efek dari kejahatannya, ia lebih pantas untuk menerima hukuman yang lebih dari sekedar ditahan di balik jeruji besi, bukan sebaliknya dikurangi. Ia telah merugikan negara, menyengsarakan banyak orang, atau lebih jauh lagi dengan tindakan korupnya tersebut ia telah membunuh rakyat-rakyat kecil secara perlahan.
Selain itu, untuk memperoleh remisi (ampunan) seharusnya diperlukan persetujuan pihak korban terlebih dahulu. Hal ini penting karena bagaimanapun korban adalah pihak yang secara langsung paling dirugikan oleh kejahatan pelaku.

3.      “Rok Mini”
Kasus tentang “rok mini” yang beberapa minggu lalu ramai dibicarakan adalah contoh lain dari seseorang melogikakan HAM secara terbalik. Mencuatnya kasus tersebut berawal dari pemerkosaan seorang perempuan di angkutan umum. Dan menurut beberapa pihak kejadian tersebut dikarenakan saat itu korban menggunakan rok mini. Tapi kaum wanita, diwakili Komisioner Komnas Wanita, tidak menerima pendapat tersebut. Menurut beliau kejadian tersebut lebih diakibatkan oleh minimnya tingkat keamanan di tempat umum, dalam hal ini pemerintah lah yang bertanggung-jawab. Atau menurut pihak lain berpakaian adalah hak asasinya, ia bebas berpakaian seperti apapun. Untuk kasus pemerkosaan, kaum lelaki saja yang tidak mampu mengekang hawa-nafsunya.

Motif pelaku untuk memperkosa memang bermacam-macam, tapi menurut kami yang paling bertanggung-jawab atas keselamatan seorang wanita adalah dirinya sendiri. Dan rok mini adalah semacam pintu terbuka yang memberi celah pada benteng keselamatan pemakainya. Wanita tidak seharusnya menuntut keselamatan dari pihak lain, jika ia tidak mau menjaga keselamatannya sendiri. Selain itu, berpakaian juga memang kami akui sebagai salah satu hak kebebasan setiap orang. Tapi, kita harus sadar bahwa kebebasan kita berpakaian seharusnya tidak mengganggu kebebasan orang lain dalam menjaga kesehatan moralnya.

4.      Gay, Lesbian, Biseksual dan Transgender
Kita tahu bahwa sudah menjadi kodrat manusia diciptakan Tuhan dengan dibedakan menjadi dua jenis, pria dan wanita. Tuhan juga menganugerahi perasaan suci, cinta, dalam diri keduanya sehingga memiliki ketertarikan satu sama lain. Dengan memiliki ketertarikan antara pria dan wanita inilah manusia dapat mempertahankan keberlanjutan hidupnya. Karena memang secara biologis, hanya melalui hubungan pria dan wanita lah manusia bisa memiliki keturunan.

Maka aneh sekali mereka yang mengatakan bahwa perilaku menyukai dengan hasrat seksual terhadap sesama jenis merupakan hak asasi manusia. Justru pelaku penyuka sesama jenis telah membuang haknya sebagai manusia untuk memiliki keturunan. Atau dengan sudut pandang yang berbeda, ia telah melanggar kewajiban sebagai manusia untuk menjaga rasnya dari kepunahan. 

Kaum gay, lesbian dan sejenisnya memang tidak perlu didiskriminasikan dalam lingkungan masyarakat, karena mereka juga manusia. Mereka adalah pemilik perilaku menyimpang yang perlu dibina dan dibimbing hingga mampu mengembalikan kesejatian dirinya, menemukan kembali kodratnya sebagai pria dan wanita. Membiarkan mereka seperti itu, bahkan memberi wadah kepada mereka untuk mengekspresikan penyimpangannya adalah sebuah kesalahan fatal. Itu sama saja dengan membunuh keturunan mereka.

Daripada Ayam

Tadi pagi, di kampus, depan kelas sambil nunggu dosen datang aku assik sendiri memperhatikan seekor kupu-kupu kecil putih yang terbang seekor diri. Aku memperhatikannya lama-lama, yang berarti juga dosen lama tak datang-datang, si kupu-kupu kecil sepertinya menemukan pasangannya. Mereka terbang bersama, terlihat bersenda-gurau saling menggoda. Lucu sekali, tapi sayang pemandangan cantik itu tak bertahan lama, tak lebih dari satu menit saja. Mungkin ternyata yang tadi saling bertemu adalah sesama laki-laki.

Pengangguran sekali aku ini! Ah, tidak apa-apa, daripada di kampus memandangi ayam kan mending memperhatikan kupu-kupu? Asal jangan di malam hari saja, keduanya akan sama-sama berbahayanya..

Gedung FPEB-Lama UPI Bandung, 20 Desember 2011

13 November 2011

Gawat! Tidak Mungkin Saya Bisa Pacaran

Awalnya kecewa saat tidak ada seorang pun teman yang sedang dalam status berpacaran memberi respon terhadap tulisan saya yang sebelumnya, KBBI Tak Mampu Memberi Tahuku Perihal Berpacaran. Ada beberapa yang memberi komentar, namun tidak pada pokok persoalan. Ada yang mengajukan pendapatnya mengenai pokok persoalan, tapi mereka bukan pelaku berpacaran, bahkan sepertinya tidak pernah berpacaran. Makanya saya kurang sedikit percaya. Yang saya butuhkan adalah argumen dari pelakunya langsung, agar informasi yang saya peroleh berimbang.

Satu-tiga hari saya menunggu mereka yang berstatus pacaran memberi tanggapan, tetap tidak ada. Akhirnya saya ambil kebijakan untuk memancing mereka, atau lebih tepatnya sedikit “memaksa”, untuk berbicara.

Berhasil! Satu orang terpancing. Tapi sayang, komentarnya masih kurang ngena. Satu orang lagi mengikuti, tanggapannya mulai nyentuh pokok persoalan.
Pasangan tak akan bertahan lama klo tak ada rasa persahabatan d dalamnya.
Persahabatan tdk bsa dsebut pacaran. Pacaran itu pasti persahabatan.

Tapi sekali lagi sangat disayangkan, tanggapannya belum cukup menjelaskan tentang pacaran secara total. Saat kuajukan pertanyaan lanjutan, “Jadi bedanya pacaran ma persahabatan apa? apa yang gak ditemuin di persahabatan tapi bisa ditemuin di pacaran? Ia tak menjawab. Setelah itu tidak ada lagi yang memberi tanggapan. Putus sudah harapan untuk menguak ketidak-pahaman saya terhadap masalah berpacaran ini.

Sekitar dua hari setelahnya, saat sudah tidak peduli lagi dengan masalah ini, saya berpapasan dengan seorang teman di kampus. Dia adalah salah satu pelaku berpacaran yang saya pancing untuk ngomong. Dia mencegatku, “Mad! Mmm.. Tentang pacaran itu...” Dia sedikit berpikir, seperti ada yang membuatnya ragu. “Oh iya, kenapa?” kutimpali dia, sambil diam-diam dalam hati nyimpen perasaan seneng, “Assik! Akhirnya ada yang mau ngomong juga! Dan kayaknya serius.”

“Mmm..” ia melanjutkan dengan masih ragu-ragu, “Entar aja deh! Saya komen langsung ke note kamu...” Sekali lagi saya dikecewakan. Tapi tidak apa-apa, karena tampak serius, saya yakin dia bakal ngasih komentar. “Oke, siap! Saya tunggu komentarnya.”

Malamnya saya buka facebook, tidak ada pemberi-tahuan mengenai komentar baru di note saya. Baru esok paginya ada pesan baru di inbox dengan subyek “Komen Note” atas nama teman yang kemarin mencegat saya. Saya buka pesannya, kira-kira isinya seperti ini:
Mad ini komen aq ttg note km,,
Mnurut aq, kondisi yg km ceritakan d note itu adlh slah stu kondisi yg trjadi dlm hbungan yg biasa dsbut "pacaran". Pacran ada yg trjadi dri niat si cowo ato si cwe utk memulai pdkt, ada jg yg trjadi krna stelah lama knal, nyaman kmudian jadian, ada jg yg cuma buat status, ada yg skedar pelarian,, ada yg berniat utk ke jenjang prnikahan dn msh bnyak lg kondisi yg sbnernya brmacam2 nmun bsa d sbut pcran,, trmasuk kondisi yg km critain, mgkin tdk pacran mnurut km. tp ada org lain yg serupa dgn km tdk ada pross pnembakan nmun kemudian mreka mrasa smkin dekat shingga wlopun tanpa proses "nembak" mrka sdh mrasa pcran, itu trgantung gmna kdua blah phak mgganggap hbungan yg mreka jalani. Nah, klo soal arti KBBI yg mnyebutkan arti pcran itu demikian, dn ada yg mnjalani pacaran dgn tanpa kasih sayang, itu brarti org trsbut hnya mgejar "status". Sdgkan kata pacar itu sndiri bsa diartikan dlm KBBI sprti itu krna porsi awalnya pacaran itu adlah hbungan yg d dsari atas kasih sayang,,Nah d stu km jg smpat bgung apakah rasa kagum dia sma dgn rsa kagum km, d situ lah knpa org memilih pacaran dg proses "nembak", utk tahu apkah mereka pnya prasaan yg sma, tp klo ttp ingin sprti itu ya gpp, setiap org pnya cra nya msing2 utk mnjaga kemistri,,
Di bawahnya tertera:
Komentar cwe yg pnya pacar, hahahahaha :p

Beneran serius euy! Cukup menarik, dia banyak ngasih tau latar belakang orang-orang berpacaran. Saya balas pesannya:
asseeeekk..~! klo kamu sndri trmsuk kndisi yg mana? ltar blakang pacarannya apa?

Setelah beberapa waktu, jawabannya muncul di hape saya:
Blsannya g lewat fb ya, fb aq g dilog-out d kompi dia hehe

Di luar cerita, saya gak paham dengan kalimat ini. Apa hubungannya fb dia yang gak di-logout di komputer pacarnya dengan balasan pesannya yang lewat SMS? :)
Klo alasan aq pcaran selama ini, krna pngen tau karakter org lbh dlem lg, dn yg psti krna nyaman,, Dan klo soal sayang itu, aq sndiri g bsa jelasin kya gmna, yg psti sih ada rsa peduli. pduli klo dia skit, pduli klo dia bt, pduli klo dia ada msalah dll lah,, Dan sbg cwe trkadang perhatian itu dprlukan, wlopun aq bsa g mkirin hal itu slma 2 thn lebih mlih single, *curhat* haha

Cuma ya intinya, bnyak sih yg bsa dilakuin, bsa tuker pikiran, kta pnya org yg bsa lebih kta prhatiin dn mmperhatikan kta, hehehehe
Tapi basic-nya krna nyaman dan peduli mad.

Assik sekali teman saya yang satu ini! Orangnya terbuka, makanya saya beranikan diri nanya kayak gini:
org pcarn g nemuin knyamanan d dlm klrga y? smpe msti nyari d luar.
jd, syang tu pduli? apa bda’y pduli org pcarn ma pdulinya tman biasa/kluarga?
brarti org pcarn tu org yg kurang dprhatiin lngkungannya y, baik klrga/tmn?
Sebenarnya saya sempet ragu mau nanya gitu, takut tersinggung atau gimana. SMS saya tak kunjung dibalas, dan saya pun ragu bakal dibalas. Celaka!

Benar saja, setelah sekian lama datang SMS balasan yang isinya bernada ketidak-nyamanan.
Persepsi kta beda mad,, :)
Aq tau apa yg km mksud, dn aq hargai persepsi km
Dan satu hal, kasih sayang dri kluarga aq g pernah sdikitpun trasa kurang. Alhamdulillah,, :)

Dengan perasaan bersalah saya bales:
owh,.oke sip! alhmdlillah,.syukurlah.. brarti dugaan sya slah.
kmbli k mslah awal, jd pcarn tu buat apa? klo trnyata smua yg km sbutin d sms sblumnya dah km dpet dr kluarga/tman?

Untuk kali ini pertanyaan saya benar-benar tidak dijawab. Pupus lagi harapan saya untuk memperoleh kejelasan mengenai pacaran. KBBI tak mampu memberinya, begitupun dia yang berpacaran. Lalu harus kemana saya mencari penjelasan tentang masalah pacaran ini? Bertanya pada rumput yang bergoyang? Atau coba bertanya pada langit tua? Ah, sepertinya mereka tidak peduli dengan masalah seremeh ini. Saya saja yang kurang kerjaan.

Sampai akhirnya dengan sangat terpaksa saya bikin hipotesis secara sepihak bahwa tujuan orang berpacaran adalah untuk mengetahui hubungan suami-istri sejak dini. Seperti pasangan siswa/i SMA berboncengan motor yang saya lihat kemarin. Sepertinya asik sekali, tangan si cewek melingkar memeluk pinggul cowok-nya dan dagunya diletakkan ke pundak si cowok. Mesranya aduhai! Ditambah rintik-rintik gerimis membuat suasana semakin romantis. Seolah-olah mereka bersekongkol dengan alam untuk mengejek saya yang tidak pernah merasakan sensasi suasana kayak gitu.

Dan kalau hipotesis saya benar, maka sudah tidak ada kemungkinan bagi saya untuk dapat berpacaran. Gawat! Ketidak-pahaman saya tentang masalah pacaran ini mungkin saja jangka panjangnya akan berakibat pada kebutaan pada masalah-masalah pernikahan dan konflik-konflik dalam rumah tangga. Saya tidak bermaksud ngomong kalo pacaran itu isinya melulu masalah dan konflik lho!

Tapi tidak apa-apa, saya pertaruhkan pernikahan saya dengan tidak berpacaran saat ini. Pacarannya sekalian dalam berumah-tangga aja, kayaknya lebih seru. Saya terlalu takut melakukan aktivitas macam itu sekarang. Disentuh cewek sedikit aja saya ngrasa nggak nyaman. Ada rasa-rasa makseeeerrr...~ gimanaaa gitu! Entah kenapa dan dari mana perasaan itu muncul. Mungkin gara-gara sejak kecil saya dididik dalam keluarga yang bener-bener memperhatikan dasar agama kali ya? Kata Nabi yang nyampein agama saya, lebih baik menggenggam bara api dari pada megang cewek yang bukan mahram.

Tapi setelah diingat-ingat, pasangan berboncengan motor yang kemarin ternyata seagama dengan saya, tampak dari tutup kepala yang si cewek kenakan. Saya yakin mereka juga tau kata-kata Nabi tersebut. Maka muncul pertanyaan, apa yang membuat saya merasa takut? Atau apa yang membuat mereka tidak merasa takut?

Masa bodo teuing lah! Rumput bergoyang ataupun langit tua saja tidak peduli. WaaLlahu’alam bish-shawab.


Bandung, 13 November 2011

05 Oktober 2011

Tuhanku Tuhanmu Tuhan Kita

Pagi itu anak-anak kumpul bergerombol membentuk lingkaran seperti biasanya. Forum asal ramai tersebut benar-benar ramai, di dalamnya terdapat anak-anak yang berasal dari berbagai suku dan juga pemeluk beberapa agama, walaupun mayoritas tetap yang ber-KTP Islam. Tema yang dibicarakan pun macam-macam, entah sekedar ngobrol-ngobrol hal remeh-temeh tentang hasil pertandingan sepak bola semalam sampai kepada isu-isu pelik tentang agama dan Tuhan. Seperti tema pembicaraan hari itu, tanpa sengaja kami memasuki kedua wilayah sensitif tersebut.

Awal masalahnya memang dimulai dari ceritaku tentang seseorang yang sembuh dari penyakit mematikan tanpa menjalani proses pengobatan medis. Begini aku bercerita, “Ada seorang laki-laki tua sakit parah, ia divonis oleh dokter akan meninggal dalam beberapa minggu lagi. Mendengar vonis tersebut ia sedikit mengalami shock. Ia pun pulang, menceritakan masalah tersebut kepada istrinya. Istrinya tak sanggup berkata-kata, ia hanya mampu menguatkan sang suami.”

Teman-teman sekelilingku tampak mulai memperhatikan, aku melanjutkan cerita, “Karena saling mendukung, setelah beberapa hari mereka berdua pun mulai sedikit tenang, menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa. Sampai kemudian pada beberapa minggu yang dokter tentukan bahwa lelaki tua tersebut akan meninggal. Tapi entah kenapa semua baik-baik saja, lelaki tua tersebut masih bisa menghirup oksigen dengan lancar. Bukannya gembira dengan keadaan tersebut, ia dan istrinya justru dibuat heran. Mereka pun kembali ke dokter, menanyakan tentang kebenaran vonis yang telah berikan. Melihat kondisi lelaki tua tersebut, dokter pun ikut-ikutan sedikit heran. Akhirnya ia memutuskan untuk memeriksa si lelaki tua.”

Teman-teman masih tertarik dengan ceritaku, kuteruskan ceritanya, “Menakjubkan! Sudah menangkal vonis Sang Dokter, dari hasil pemeriksaan malah dapat diketahui juga bahwa ternyata Si Lelaki Tua telah sembuh total, penyakit-penyakit yang terdapat di dalam tubuhnya telah musnah. Selain itu, pemeriksaan lebih dalam memberi informasi penyebab terjadinya keajaiban tersebut. Menurut Sang Dokter, kesembuhan lelaki itu ternyata akibat efek psikologis Si Lelaki Tua yang ikhlas menerima keadaannya.”

Ceritaku tentang Si Lelaki Tua selesai. Tapi, aku masih melanjutkan celotehku mencoba menyimpulkan cerita tersebut, dan sepertinya celotehku berikutnya inilah penyebab terjadinya gesekan panas dengan tema sensitif tentang agama dan ke-Tuhanan. “Hebat sekali bukan kekuatan ikhlas itu?” tanyaku retorik kepada teman-teman. “Dengan keikhlasan, Si Lelaki Tua tadi bisa sembuh dari penyakit mematikan. Dengan ikhlas, pasti Allah memberi kita jalan keluar dari setiap masalah kita. Dan perlu kalian tahu, ternyata lelaki tua tersebut seorang Nasrani! Apalagi kita yang Muslim!” begitulah sedikit tambahan dariku.

“Apa maksudmu dengan “apalagi yang muslim”? Apa kau bermaksud menyatakan bahwa keikhlasan seorang muslim memiliki semacam kekuatan yang lebih tinggi untuk mempengaruhi Tuhan?” seorang teman menikamku dengan pertanyaan aneh seperti itu.

Ia meneruskan gugatannya, “Kalau seperti itu, berarti tuhanmu sangat lemah. Bagaimana mungkin ia bisa pilih kasih dengan makhluknya hanya karena makhluk tersebut tidak memeluk agamanya. Berbeda dengan Tuhanku, Ia sangat menyayangi setiap makhluk-Nya, tanpa memandang latar belakang agama. Ia menyembuhkan siapapun makhluk-Nya yang sakit sesuai kehendak-Nya. Ia memberi rizki kepada siapapun yang Ia kehendaki. Ia memberi sesuatu yang dibutuhkan makhluk semau-Nya, bukan karena si makhluk dianggap special. Ia terlepas dari hukum sebab-akibat. Makhluk tidak bisa mempengaruhi Tuhan, makhluk hanya bisa berusaha.”

“Gawat! Aku ceroboh dengan kata-kataku yang terakhir. Aku lupa bahwa dalam forum tersebut ada pemeluk agama lain,” gerutuku dalam hati. Tetapi mengejutkan! Setelah kuselidiki, teman yang menggugatku tadi adalah saudara seagama, ia juga ber-KTP Islam.

Bandung, 05 Oktober 2011

23 September 2011

Kewajiban HAM yang Tegak dan Hak KAM yang Terabaikan

Yang kami tahu sejak jaman manusia pertama, penerima hukuman adalah ia yang melanggar kewajiban. Saat Adam-Hawa dihukum Tuhan keluar dari surga, itu akibat pelanggaran kewajiban mereka untuk menjauhkan tubuhnya dari buah Khuldi. Maka menjadi lucu jika ada seseorang yang menerima hukuman akibat ia melanggar hak. Ya, di jaman yang semakin jauh dari jaman Adam-Hawa ini dunia semakin lucu, lahir sejenis kejahatan aneh yang dikenal dengan istilah pelanggaran hak. Ini membawa pikiran kami pada sebuah perumpamaan seorang karyawan yang dihukum karena menolak menerima gaji dari perusahaan tempat ia bekerja atas dasar loyalitas misalnya. Lalu bagaimana jika kasus tersebut dibalik, pihak perusahaan menolak memberi gaji pada karyawannya?

Perumpamaan itu kan mirip dengan apa yang terjadi di Inggris sekitar tahun 1215, serta Amerika dan Perancis sekitar tahun 1789. Katanya pada waktu itu, di sono pemerintahannya dikuasai oleh pemimpin-pemimpin yang lalim, otoriter, mengekang, dan seneng banget nyusahin rakyat. Kemudian bermunculan lah perjuangan-perjuangan dari kaum yang tertindas menuntut kemerdekaannya untuk hidup dan berpenghidupan. Sampai kemudian muncul ide tentang hak asasi manusia (HAM), yaitu hak dasar yang dimiliki manusia sejak ia dilahirkan. Hak ini sangat sakti, ia diberikan tanpa harus memenuhi suatu kewajiban apapun. Padahal normalnya hak baru diberikan setelah dipenuhinya kewajiban, karyawan diberi hak gaji setelah ia menyelesaikan kewajiban pekerjaannya.

Kini, seiring perkembangan zaman kesaktian HAM semakin tinggi, bahkan mungkin sudah mengungguli kesaktian Tuhan. HAM mampu membebaskan semua manusia dari segala macam hal yang memiliki kemungkinan sanggup memenjarakan kemerdekaannya, termasuk Tuhan dengan perangkat agama-Nya. Sepekan-dua pekan yang lalu misalnya, kita diributkan oleh masalah rok mini. Atas nama kebebasan asasinya dalam berpakaian, wanita kita sekarang sanggup melepaskan diri dari ikatan perintah Tuhan untuk menjaga tubuh berharga yang Ia titipkan. “Kok lu nglarang-nglarang gue pake rok mini, suka-suka gue dong mau pake apaan. Kalo gue mau telanjang juga itu hak gue!” begitu kira-kira bunyinya saat ada orang yang coba-coba melarang.

Kami tidak menyalahkan mereka yang memperjuangkan haknya yang dirampas, hanya saja ada semacam kekeliruan pemahaman mengenai ide hak dan kewajiban ini. Di awal perumusannya, di negara-negara yang aku ceritakan sebelumnya, ide tentang HAM ini sepertinya mengalami kekeliruan. Untuk melindungi kemerdekaannya, seharusnya mereka merumuskan kewajiban asasi manusia (KAM). Yang dilanggar oleh para pemimpin lalim itu kan kewajiban mereka untuk bersikap demokratis, bijak, menjaga dan mencintai rakyat. Memang perilakunya lewat perampasan-perampasan hak rakyat, tapi istilah yang relevan digunakan tetap pelanggaran kewajiban, bukan pelanggaran hak. Maka yang perlu diperhatikan adalah pepatah bijak yang menyatakan bahwa batas kebebasan kita adalah kebebasan orang lain.

Inilah inti dari kewajiban asasi manusia: menjaga kemerdekaan orang lain. Misalnya, kebebasan kita berpakaian seharusnya tidak mengganggu kebebasan orang lain dalam menjaga kesehatan moralnya. Kebebasan kita memiliki sesuatu harus terlepas dari langkah-langkah merampas milik orang lain. Kebebasan kita berpendapat harus jauh dari unsur pengkerdilan pendapat orang lain. Dan lain serupanya. Maka, sebenarnya KAM lebih sederhana dari HAM. Untuk menghindari terulangnya penuntutan-penuntutan hak yang tidak masuk akal seperti kasus rok mini di atas, kita pilih:  melanjutkan gerakan yang mewajibkan HAM tegak atau bersedia memberikan hak KAM yang sudah lama diabaikan?

Bandung, 23 September 2011

14 September 2011

Lift Mati

Hari ini ada perkuliahan di lantai empat. Tak terasa 2 sks sudah selesai. Dosen beserta mahasiswa/i pun keluar kelas. Mahasiswa/i menuju kelas berikutnya, dan sang dosen hendak kembali ke kantor. Tidak terduga lift yang biasa mengangkut para mahasiswa dan dosen saat itu mati, entah karena rusak atau ngambek kecapean harus mengangkat ratusan orang tiap harinya. Sebenarnya tidak ada masalah dengan kejadian seperti itu, karena masih ada tangga alternatif, hanya perlu sedikit mengeluarkan tenaga saja. Para mahasiswa/i pun ramai-ramai menuruni bangunan empat lantai itu dengan menapaki setiap anak tangga. Namun, ada yang aneh dengan sang dosen. Katanya ia tidak mau turun sampai liftnya kembali nyala, ia akan menunggu walaupun ada kemungkinan liftnya akan kembali berfungsi esok hari. Kemudian para mahasiswa merasa iba, mereka pikir mungkin karena sudah lansia maka tak kuat, jadi mereka menawarkan diri untuk menggendongnya. Aneh, sang dosen tetap tak mau turun. Akhirnya para mahasiswa mengingatkan, "Bu, inget anak-suami di rumah yang perlu ibu layani. Kalo ibu tetap di sini sampai besok, siapa yang akan melayani mereka?"

Bandung, UPI-net
15 September 2011

Aku Bangga Pakai Jilbab, Kamu?

Ada tiga orang cewe', dua berjilbab yang lain tidak. Mereka menjumpai sebuah pamflet yang menempel di dinding bertuliskan: "Aku Bangga Pakai Jilbab, Kamu?"

Tanpa ragu yang tidak berjilbab nyletuk, "Aku gerah kalo pake jilbab.."
Sedangkan dua lain yang berjilbab hanya menanggapi dengan senyum, sambil menyembunyikan kata dalam hatinya, "Iya, bener banget! Pake jilbab tu gerah. Kalo gak karena tuntutan peran sih saya gak akan pake.."

02 September 2011

Sayang Sekali, Sayang..

Ada seorang teman ber-status, “Bagi saya, sayang itu ingin dia selamat di akhirat.”  Kemudian ia menyatakan sayangnya ke beberapa teman yang menyukai statusnya tersebut. Terbaca menarik, aku iseng-iseng nyletuk, “Oke, kita jumpa di akhirat!” Di luar dugaan ia membalas komentarku dengan, “Kalau di akhiratnya gak selamat, saya gak mau berjumpa..”

Membaca komentarnya aku jadi teringat do’a Rabi’ah Al-‘Adawiyah, seorang sufi wanita dari Basrah. Do’a beliau kurang-lebih seperti ini, “Wahai Tuhanku, sesudah daku mati masukkanlah daku ke dalam neraka dan jadikan jasmaniku memenuhi seluruh ruang neraka, sehingga tak ada orang lain dapat dimasukkan ke sana…”

Setelah menulis cerita ini dadaku sesak, aku pun tidur..

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More