Terlalu banyak hal baru di dunia ini.
Beberapa, atau mungkin banyak dari hal-hal tersebut akan benar-benar membuat seseorang menjadi bingung, seolah-olah ia salah, saat sejatinya berada dalam posisi yang benar. Atau, bisa jadi ia memang sedang berada di posisi yang salah.
Di sisi lain seseorang akan merasa benar saat mungkin ia ada dalam keadaan sebaliknya.
Maka di sinilah pedoman hidup akan memainkan peran. Dari pedoman itulah ia akan mepersepsikan posisi diri, benarkah ia atau sebaliknya.
Penentuan pedoman tentunya sangat signifikan terhadap keputusan yang diambil, baik dalam mengambil sebuah tindakan atau mempersepsikan suatu hal.
Mari kita mengambil sebuah contoh yang cukup ekstrim.
Seseorang akan menganggap bahwa hubungan seksual di luar nikah adalah suatu bentuk kesalahan, sedangkan yang lain bisa beranggapan sebaliknya. Dua orang ini jelas tidak sedang berada dalam satu posisi, bukan? maka jelas adanya, bahwa yang satu pasti benar dan yang lain pasti salah.
Berbagai cara menentukan pedoman hidup telah dilakukan manusia dari awal pijakannya di muka bumi ini. Beberapa di antaranya tercatat dalam sejarah peradaban.
Penulis (yang juga seseorang yang telah meyakini sebuah pedoman hidup saat menuliskan renungan ini) akan menyebutkan beberapa contoh, tak lain guna memberikan gambaran tentang pelbagai cara yang telah ditempuh manusia dalam rangka mencari pedoman hidup, yang dengannyalah manusia akan memperlakukan diri dan lingkungannya.
Ibrohim a.s. dengan pertanyaan-pertanyaan dan logikanya dalam memahami fenomena alam yang ia saksikan, akhirnya menyimpulkan bahwa alam semesta ini memiliki pengatur yang tidak pernah luput dalam pengaturannya, bukan matahari yang terbenam saat senja atau bulan yang menjadi pucat pasih ketika pagi datang, bukan pula bebintang yang hanya bersinar indah di malam hari.
Al-Ghozali, dengan metodenya yang mirip dengan Grounded Theory, harus terlebih dahulu membebaskan dirinya dari segala asumsi dan berbagai judgement yang pernah tertanam dalam dirinya untuk kemudian mencari kebenaran tentang keberadaan Tuhan, atau Muhammad saw. yang selama beberapa bulan menyendiri di gua di puncak sebuah bukit bernama 'nur' sebelum kemudian mengklaim bahwa dirinya adalah seorang nabi.
Karl Marx dengan jalan pikirannya sendiri sehingga berlanjut pada teori materialismenya,
Selain mereka yang mencari, adapula yang terinspirasi oleh orang lain, kemudian dengan caranya sendiri dapat menentukan pedoman hidupnya, sementara pada sebagian yang lain ada juga yang hanya ikut-ikutan.
Penentuan pedoman hidup adalah suatu pencarian jati diri. Siapa kita, siapakah orang-orang yang ada di sekitar kita, apa sebenarnya tujuan hidup kita, bagaimana cara kita menyikapi suatu hal, kesemuanya itu semestinya dapat dijawab oleh pedoman hidup yang kita yakini. Kita sangat patut untuk ragu akan kebenaran suatu pedoman tatkala ia (pedoman tersebut) menyajikan jalan buntu atas permasalahan kekinian yang kita hadapi. Seperti ketika kita menggunakan peta dalam perjalanan kita ke suatu daerah, lalu kita menemukan jalan buntu. Kemungkinannya adalah:
-Peta itu salah
-Kita kurang terampil membacanya
Hidup ini perlu pedoman, perlu sesuatu semacam peta, kecuali kita tidak akan kemana-mana. Tapi sayangnya kita PASTI akan pergi dari dunia ini. Sebagian menganggap kepergian itu adalah sebuah akhir saat ada sebagian lain meyakininya sebagai awal perjalanan.
Sudahkah kita punya pedoman hidup?
Beberapa, atau mungkin banyak dari hal-hal tersebut akan benar-benar membuat seseorang menjadi bingung, seolah-olah ia salah, saat sejatinya berada dalam posisi yang benar. Atau, bisa jadi ia memang sedang berada di posisi yang salah.
Di sisi lain seseorang akan merasa benar saat mungkin ia ada dalam keadaan sebaliknya.
Maka di sinilah pedoman hidup akan memainkan peran. Dari pedoman itulah ia akan mepersepsikan posisi diri, benarkah ia atau sebaliknya.
Penentuan pedoman tentunya sangat signifikan terhadap keputusan yang diambil, baik dalam mengambil sebuah tindakan atau mempersepsikan suatu hal.
Mari kita mengambil sebuah contoh yang cukup ekstrim.
Seseorang akan menganggap bahwa hubungan seksual di luar nikah adalah suatu bentuk kesalahan, sedangkan yang lain bisa beranggapan sebaliknya. Dua orang ini jelas tidak sedang berada dalam satu posisi, bukan? maka jelas adanya, bahwa yang satu pasti benar dan yang lain pasti salah.
Berbagai cara menentukan pedoman hidup telah dilakukan manusia dari awal pijakannya di muka bumi ini. Beberapa di antaranya tercatat dalam sejarah peradaban.
Penulis (yang juga seseorang yang telah meyakini sebuah pedoman hidup saat menuliskan renungan ini) akan menyebutkan beberapa contoh, tak lain guna memberikan gambaran tentang pelbagai cara yang telah ditempuh manusia dalam rangka mencari pedoman hidup, yang dengannyalah manusia akan memperlakukan diri dan lingkungannya.
Ibrohim a.s. dengan pertanyaan-pertanyaan dan logikanya dalam memahami fenomena alam yang ia saksikan, akhirnya menyimpulkan bahwa alam semesta ini memiliki pengatur yang tidak pernah luput dalam pengaturannya, bukan matahari yang terbenam saat senja atau bulan yang menjadi pucat pasih ketika pagi datang, bukan pula bebintang yang hanya bersinar indah di malam hari.
Al-Ghozali, dengan metodenya yang mirip dengan Grounded Theory, harus terlebih dahulu membebaskan dirinya dari segala asumsi dan berbagai judgement yang pernah tertanam dalam dirinya untuk kemudian mencari kebenaran tentang keberadaan Tuhan, atau Muhammad saw. yang selama beberapa bulan menyendiri di gua di puncak sebuah bukit bernama 'nur' sebelum kemudian mengklaim bahwa dirinya adalah seorang nabi.
Karl Marx dengan jalan pikirannya sendiri sehingga berlanjut pada teori materialismenya,
Selain mereka yang mencari, adapula yang terinspirasi oleh orang lain, kemudian dengan caranya sendiri dapat menentukan pedoman hidupnya, sementara pada sebagian yang lain ada juga yang hanya ikut-ikutan.
Penentuan pedoman hidup adalah suatu pencarian jati diri. Siapa kita, siapakah orang-orang yang ada di sekitar kita, apa sebenarnya tujuan hidup kita, bagaimana cara kita menyikapi suatu hal, kesemuanya itu semestinya dapat dijawab oleh pedoman hidup yang kita yakini. Kita sangat patut untuk ragu akan kebenaran suatu pedoman tatkala ia (pedoman tersebut) menyajikan jalan buntu atas permasalahan kekinian yang kita hadapi. Seperti ketika kita menggunakan peta dalam perjalanan kita ke suatu daerah, lalu kita menemukan jalan buntu. Kemungkinannya adalah:
-Peta itu salah
-Kita kurang terampil membacanya
Hidup ini perlu pedoman, perlu sesuatu semacam peta, kecuali kita tidak akan kemana-mana. Tapi sayangnya kita PASTI akan pergi dari dunia ini. Sebagian menganggap kepergian itu adalah sebuah akhir saat ada sebagian lain meyakininya sebagai awal perjalanan.
Sudahkah kita punya pedoman hidup?
Cileunyi, Jumat 19 Desember 2008
Oleh Muchammad Jalaluddin Machalli on facebook



0 comments:
Posting Komentar
Tinggalkan jejakmu di sini..