…
Suami istri baru paham watak dan kecenderungan masing-masing sesudah setahun dua tahun memasuki rumah tangga. Dulu waktu pacaran yang mereka ketahui dan nikmati hanya lapisan paling superfisial dari cinta, plus takhayul yang enak-enak tentang rumah tangga.
Berumah tangga itu bagaikan rasa pedas. Rasa pedas tidak bisa diinformasikan meskipun melalui sepuluh tesis ilmiah para doctor. Ia hanya bisa dialami. Kalau seseorang mengulum isi lombok barang satu menit, baru ia ngeh tentang apa itu rasa pedas. Waktu dibayangkan, ia adalah kehangatan dan kenikmatan, sesudah dikulum baru tahu itu panas.
Istri tidak sama dan sebangun dengan jodoh, seperti juga jodoh tidak identik dengan istri. Istri belum tentu jodoh, jodoh belum tentu jadi istri. Jodoh adalah suatu pengertian objektif tentang komposisi dan harmoni antara dua manusia. Tetapi juga, bisa dipahami di luar frame itu: jodoh adalah dua titik yang ditentukan oleh (sunnah) Tuhan untuk menyatu, terserah secara objektif ia harmonis atau tidak. Sebab orang lembut tidak harus memperoleh harmoni dengan orang lembut. Bisa seballiknya: ada yang namanya dialektika, atau kematangan karena konflik.
Karena relativitas semacam ini, maka kita bisa jumpai diri kita berumah tangga dengan wanita yang bukan jodoh dan sekaligus “bukan istri”. Sama dengan soal cita-cita dan karier. Kita memilih fakultas dan bidang pekerjaan bukan berdasarkan hasil riset diri tentang apa yang terbaik dan berjodoh bagi kita. Kita memilih bidang pekerjaaan berdasarkan dorongan atas rangsangan dari luar yang rumusnya global: mana fakultas basah, mana pekerjaan yang terbanyak upahnya, dan seterusnya.
Hidup kita belum tentu sesuai dengan apa yang Tuhan skenariokan. Apakah Anda pikir Tuhan bikin Anda tanpa konsep apa-apa dan tidur sesudah Anda tercipta. Sedangkan anak kita saja kita masukkan dalam skenario kita. Padahal, kita tidak pernah mampu bikin atau menciptakan anak. Kita sekedar melakukan sesuatu yang enak dengan istri kita, dan resikonya anak pun lahir.
Alhasil, kata kitab suci: min kuntum la yahtsibu. Berlangsung hal-hal yang sama sekali tak cocok dengan dugaan kita, dengan perhitungan kita, dengan gagasan dan persepsi kita, serta dengan ilmu pengetahuan kita. Mungkin karena kita jarang bertanya kepada Pencipta apa mau-Nya atas hidup kita, karena Tuhan selalu kita perlakukan sebagai pihak ketiga, alias “Dia”, dan jarang kita “Engkau”-kan.
…



0 comments:
Posting Komentar
Tinggalkan jejakmu di sini..