Kalau diadakan lomba accounting, tidak semua orang bisa ikut, atau tepatnya tidak semua mau ikut. Apalagi lomba mengartikan kitab "arab gundul", mungkin hanya manusia yang tahu nama Tebu Ireng, Tremas atau paling tidak nama LKIM, yang bisa mengikutinya, walaupun hadiah yang ditawarkan Rp 50 juta sekalipun. Kalau lomba itu bernama 'Lomba Menyontek Tingkat Nasional', agak lain ceritanya. Sebelum berlomba, biasanya para peserta menyiapkan diri sebaik mungkin untuk dapat memenangkan lomba tersebut. Lha, apa yang kurang dari kita untuk mengikuti kompetisi bergengsi ini? Kita punya program ‘Menyontek Sejak Dini’, yang melatih kita untuk membiasakan diri dalam hal contek-menyontek sejak di bangku sekolah. Semua trik-trik licik pernah kita jajal dengan peluang error hanya 0,3%. Orang bijak mengatakan kalau kemampuan akan tumpul bila tidak terus diasah, kita benar-benar menghayati benar kalimat itu. Apalagi sekarang menyontek jadi lebih mudah. Dulu, untuk menyontek tetap diperlukan belajar, membaca dan merangkum (tulis tangan) materi yang akan diujikan. Sedangkan sekarang kan sekedar susunan acak ABCDE, bisa dihapal kalo mau sedikit mempersulit diri. Tapi toh, kekuatan teknologi akan lebih-lebih mengkerdilkan hal menyontek ini, ya kita manfaatkan dong! Itu di sekolahan. Di kantor suatu instansi pemerintah, banyak yang membuat suatu surat keterangan atau surat kerja hanya dengan copy paste dokumen lama, sehingga sering ada yang salah karena titimangsa yang seharusnya tercantum tahun sekarang, eh lupa diganti.
Semua sudah mendukung kita untuk menyontek, bahkan dukungan datang dari dimensi-dimensi yang akal sehat pun tak memiliki kapasitas intelektual untuk memahaminya. Dimensi-dimensi yang kalo mematuhi hukum estetika moral itu tidak mungkin ditemukan dukungan dari dalamnya. Dimensi-dimensi yang jika menurut aturan etika budaya sedikitpun tak memiliki peluang keluarnya dukungan. Dari lorong nurani guru, dari balik tirai hati orang tua, juga dari pintu kebijaksanaan Pemda, serta tidak menutup kemungkinan adanya dukungan dari dimensi-dimensi tak terduga lainnya. Namun tetap tidak semua guru-orang tua-Pemda seperti itu, masih ada yang bisa dipahami akal sehat, masih banyak yang patuh hukum moral, dan tak sedikit yang masih menuruti aturan etika budaya.
Sebenarnya menyontek bisa menjadi semacam kegiatan menarik dikarenakan sifat kita yang rendah hati, menjunjung tenggang rasa, penuh keterbukaan, serta kepercayaan kita pada orang lain yang sangat tinggi. Kita paling tidak mampu untuk su’udzon sedikit saja pada orang lain, karena kita memang Indonesia, negara yang penduduknya dalam level mayor muslim dimana Nabinya melarang untuk melakukan hal buruk seperti itu. Sehingga diam-diam kita sedang menjalankan lomba menyontek ini, hanya saja secara non-formal dan prosesnya tidak seperti menyontek di sekolahan. Sekolah hanya bagian kecil yang tersentuh sistemnya, karena lomba ini sangat luas dan mendalam wilayah resapannya. Pemenangnya tidak mendapat piagam, piala atau semacamnya, namun lebih bernilai. Mereka akan mendapat pujian dari masyarakat, dielu-elukan sekitarnya, serta ditempatkan di ruang spesial oleh lingkungannya.
Ya, kita sedang bersenang-senang dalam lomba menyontek bangsa lain! Tentu saja bangsa yang kita yakini memiliki kemampuan berlebih, seperti konsep contek anak sekolahan: “Mencoteklah pada yang lebih pinter darimu!” Kita terus mencoba menyalin segala apa yang bersumber dari bangsa tersebut ke dalam lembar kertas kerja kita. Salah benar tak peduli, kita sudah terlanjur percaya padanya. Jangankan sistem ekonomi mereka yang katanya sudah jelas sukses, sekedar model rambut yang asalnya dari sono kita contek persis sepersis-persisnya. Jangankan demokrasi yang menjadi kebanggaan sistem politik mereka, sekedar potongan celana atau rok kita tiru mereka. Dan jangankan kebebasan ‘Liberalisme’ yang lebih kita hormati daripada keluhuran Pancasila, sekedar gerak patah-patah breakdance lebih kita nikmati daripada kelembutan Tari Topeng.
Memang benar sabda Rasululllah Muhammad saw, “Barangsiapa yang meniru (menyontek) suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” Karena keasyikan dan terlalu menikmati lombanya, kita jadi bli eling ning awak dewek, lupa diri. Sepertinya di beberapa bidang, terutama kebudayaan, kita sukses menyontek telak mereka. Kita benar-benar seperti mereka, bagian dari mereka kata Rasul, sampai-sampai kita buatkan patung khusus seorang Presiden dari salah satu Negara yang kita contek gara-gara kebetulan dia ditakdirkan oleh Tuhan pernah duduk di bangku SD kita. Ya ndak usah segitunya toh, biasa saja, justru patung tersebut menerjun-bebaskan kebanggaan akan diri kita sendiri. Sebaliknya, sebagai tanda terima kasih, mereka lebih “berkewajiban” membuatkan patung orang Indonesia yang menjabat Menteri Pendidikan pada saat anak kecil kulit hitam tersebut SD-nya di sini atau gurunya saja, karena telah mendidiknya sampai mampu jadi Presiden. Lantas jika di kemudian hari ia ingin datang berkunjung kembali ke Indonesia, sekedar bersilaturahim sambil nostalgia, jangan pula kita membenci dan menolak kedatangannya gara-gara dia tidak menepati janji politik waktu kampanyenya karena balik lagi, walaupun sedikit kita pernah punya andil mendidiknya jadi seperti itu. Kita sambut saja apa adanya, nggak berlebihan nggak kurang, bukankah kita diajarkan untuk menyambut tamu dengan sebaik-baiknya?
Amerika dan Eropa adalah pusat contek mode kita, sedangkan untuk keberagamaan kita memusatkan konsentrasi contek ke Timur Tengah, Afghanistan, dan Iran. Bermunculan usaha untuk menerapkan model keberagamaan dari sono ke sini. Model yang sama sekali berbeda dengan keberagamaan orang tua kita, tidak bersumber dari akar budaya Indonesia. Kita menyontek lembar jawaban orang lain tapi ternyata soal yang diberikan berbeda, soal kode B kok jawabannya kode A, ya nggak cocok. Taqlid buta, begitu kata Gus Mus. Indonesia memang negara dengan jumlah muslim terbanyak, namun Islamnya Indonesia itu unik. Ia sudah “di-setting” untuk bisa bermesraan dengan kebudayaan lokal, dapat menjalin keintiman dengan visi kebangsaan, serta mampu menyerap di sendi-sendi struktur sosial yang sudah terbangun di sini.
Maka kemudian jangan methentheng juga kalo ada negara tetangga, saudara kita juga, yang menyentuh alam kesadaran kita atas kebiasaan menyontek ini. Mereka menyindir kita dengan mengklaim budaya kita demi kepentingan mereka. Kita kebakaran jenggot walau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa udang di balik batunya. Ber-khusnudzan saja, mereka cuma nyindir bad habit kita. Karena lupa diri, mereka coba menyadarkan kita, ngingetin kalo kita punya budaya yang juga membanggakan. Dengan gagah berani orang-orang berkata "Ganyang Malaysia!", walau sebenarnya terselip "Tapi selamatkan Siti Nurhaliza!", Cak Nun menggambarkan seperti itu.
Syarat-syarat di atas, untuk menjadi peserta lomba yang impresif, sudah kita miliki semua. Kita sudah siap untuk lomba dalam ruang formal, lomba yang sistemnya lebih teratur, dan bisa kita beri nama “LOMBA MENYONTEK TINGKAT NASIONAL”. Tapi karena semua orang ngebet jadi peserta, maka yang mengadakan lombanya tidak ada. Kalau saja itu ada, mungkin saya bisa bersaing ketat dengan teman-teman pembaca ini bersama-sama di sana.
WaaLLahu’alam bishshawab..
Bandung, 03 Rabi’ul Akhir 1431.



0 comments:
Posting Komentar
Tinggalkan jejakmu di sini..