19 September 2009

Untuk Sang Malam

Bukan sajak indah untukmu,
sekedar deret kata sederhana..
Karena keindahan sudah padamu,
pada kegelapanmu dan kesunyiannya..

Wahai Sang Malam..
Kusadari itu,
kau misteri yang diselimuti kegelapan..
Karenanya pernah kucoba menepi darimu,
tapi kau menghampiriku:
"Lihatlah betapa indahnya cahayaku melalui rembulan.."
Tapi sungguh, seonggok rembulanmu
tak berarti apapun bagiku, kecuali sedikit..
Cahayamu yang melaluinya lah
yang mengusik hatiku, mengacaukan pikiranku..

Wahai Sang Malam..
Aku tak berdaya,
sehingga semakin mendalam
kita bercengkrama hangat dalam dingin suasana,
kurasakan semua apa adanya
seperti berputarnya bulan terhadap bumi
serta keduanya terhadap matahari..

Wahai Sang Malam..
Untukmu cinta jika aku punya,
untukmu cita jika aku mampu,
untukmu permohonan ma'af
jika aku memunafikkannya..

Bukan pernyataan istimewa untukmu,
sekedar pertanyaan kecil..
Karena kau sudah istimewa dalam takdirmu,
takdir kegelapanmu dan kesunyiannya..

Wahai Sang Malam..
Kenapa kau menghampiriku?
Ah, bukan!
Akulah yang mendatangimu..
Ma'afkan aku!

Wahai Sang Malam..
Sebenarnya itu
tak seharusnya dipertanyakan,
ini masalahku bukan salahmu..
Padakulah salah,
tentang kebiadaban nafsuku,
tentang kekerdilan emosiku,
tentang keburaman perasaanku..
Ma'afkan aku!

Wahai Sang Malam..
Kenapa saat itu
kau tunjukkan padaku cahayamu?
Ah, tidak!
Akulah yang membuka tabirmu..
Ma'afkan aku!

Wahai Sang Malam..
Sesungguhnya itu
tak semestinya dipertanyakan,
ini salahku bukan masalahmu..
Padakulah masalah,
tentang aku,
tentang kau,
tentang harapan..
Ma'afkan aku!

Wahai Sang Malam..
Kubutuh matahari,
agar aku tak
mendatangimu lebih dulu,
agar kau menghampiriku
pada takaran waktu,
agar semua terjadi
seperti berputarnya alam semesta..

Wahai Sang Malam..
Untukmu cita,
kelak jika aku tahu..
Untukmu cinta,
kelak jika aku paham..
Untukmu permohonan ma'af,
selalu sampai kelak..

0 comments:

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu di sini..

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More